Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara tegas membantah klaim Amerika Serikat mengenai pembentukan saluran komunikasi militer langsung atau 'hotline' antara kedua negara. Penegasan ini disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur air yang menjadi jalur krusial bagi lalu lintas energi global.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, melalui unggahan di platform X, menyatakan bahwa laporan mengenai terjalinnya komunikasi langsung antara militer Iran dan AS adalah informasi yang sepenuhnya salah. Mohebi menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan wilayah kedaulatan Iran dan tidak memiliki kaitan operasional dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas klaim Wakil Presiden AS, JD Vance, yang sebelumnya menyebutkan bahwa telah dicapai kesepakatan untuk membangun saluran komunikasi guna meredakan konflik di kawasan Teluk. Vance sempat mengisyaratkan bahwa perwakilan IRGC dan Komando Pusat AS (CENTCOM) akan melakukan koordinasi rutin di Doha untuk menangani sengketa maritim.
Ketidakpastian ini semakin diperkeruh dengan insiden penyerangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut. Kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely, dilaporkan terkena proyektil misterius saat melintasi jalur yang direkomendasikan oleh Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.
Sebelumnya, media pemerintah Iran, Press TV, sempat melaporkan adanya pembentukan saluran komunikasi pasca-perundingan di Swiss. Saluran tersebut diklaim bertujuan untuk mencegah insiden yang dapat memicu eskalasi militer serta mendukung pemulihan lalu lintas perdagangan maritim yang terganggu sejak akhir Februari lalu.
Di tengah klaim yang bertolak belakang ini, masa depan manajemen Selat Hormuz kini diarahkan pada konsultasi antara Iran dan Oman. Keduanya berencana melibatkan negara-negara pesisir Teluk Persia lainnya untuk menentukan layanan maritim di masa depan berdasarkan hukum internasional dan kedaulatan negara-negara terkait.