Dalam wawancara televisi pada Rabu, 19 Agustus, Mayor Jenderal cadangan Uzi Dayan mengungkapkan bahwa Israel sedang mempersiapkan kemungkinan serangan pendahuluan terhadap fasilitas nuklir Iran, langkah yang diambil tanpa menunggu persetujuan Washington.
Dayan, yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Israel menghadapi apa yang ia sebut 'perang untuk eksistensi keberadaannya' dan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan Amerika Serikat untuk mengatasi ancaman Teheran.
Latar belakang pernyataan ini adalah upaya diplomatik AS yang sudah berlangsung hampir enam bulan untuk menarik Iran ke meja perundingan, sementara Israel justru menganggap negosiasi tersebut tidak cukup menjamin keamanan jangka panjang.
Ketegangan antara Netanyahu dan Presiden Donald Trump semakin terbuka; Trump merasa frustrasi karena Netanyahu sering melancarkan serangan sepihak ke Lebanon hingga wilayah Teheran, yang dinilai merusak upaya damai AS.
Akibatnya, Netanyahu baru-baru ini mengumumkan bahwa Israel siap mengambil tindakan militer independen jika Washington tidak mengambil langkah yang dianggap memadai oleh Tel Aviv.
Bagi Indonesia, negara pengekspor tenaga kerja dan pengimpor minyak mentah, eskalasi militer di Teluk Persia berpotensi mengganggu pasokan energi dan menaikkan harga bahan bakar di dalam negeri.
Ribuan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga berisiko terpapar dampak keamanan jika konflik melebar ke wilayah Teluk.
Masyarakat Muslim Indonesia, yang secara tradisional mendukung causa Palestina, memantau perkembangan ini dengan cemas karena ketegangan Iran-Israel sering memicu protes solidaritas di berbagai kota besar.
Dayan menegaskan, 'Kita harus mempertahankan kebebasan bertindak untuk merespons ancaman yang kita lihat dari Iran,' menekankan bahwa keputusan militer tidak boleh tertahan oleh kalkulasi politik asing.
Ahli geopolitik menilai langkah sepihak Israel dapat memicu respons balik dari milisi pro-Iran di Suriah, Lebanon, dan Yaman, memperluas zona konflik ke seluruh Timur Tengah.
Langkah selanjutnya yang diproyeksikan adalah tekanan diplomatik AS ke Israel untuk menunda serangan, serta upaya PBB mengadakan sidang darurat guna mencegah peperangan skala penuh.
Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, diharapkan terus mendorong resolusi damai dan mempersiapkan skenario evakuasi warganya jika situasi memburuk, sambil menjaga netralitas dalam diplomasi multilateral.