Federasi Tenis Internasional (ITF) secara resmi mengumumkan perubahan identitas menjadi World Tennis pada hari Kamis. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari visi ambisius induk organisasi tenis dunia tersebut untuk meningkatkan jumlah partisipasi olahraga tenis secara global sebesar 30 persen dalam satu dekade ke depan.
Didirikan sejak tahun 1913, ITF selama ini dikenal sebagai otoritas tertinggi yang mengatur regulasi tenis dunia, mengelola kompetisi internasional bergengsi seperti Davis Cup, Billie Jean King Cup, hingga cabang tenis di Olimpiade. Dengan identitas baru ini, organisasi berkomitmen untuk menginvestasikan kembali 85 persen dari seluruh pendapatan tahunan mereka guna mendukung pengembangan olahraga ini di berbagai level.
Presiden World Tennis, David Haggerty, bersama CEO Ross Hutchins, telah menetapkan lima prioritas strategis utama. Fokus utamanya mencakup peningkatan partisipasi masyarakat, mendukung munculnya bintang tenis masa depan, memperkuat kompetisi nasional resmi, serta memastikan keberlanjutan olahraga tenis di masa depan melalui investasi yang terencana dengan baik.
Ross Hutchins menjelaskan bahwa perubahan nama ini bertujuan untuk membuat organisasi lebih mudah dikenali oleh publik luas. Menurutnya, nama 'World Tennis' lebih merepresentasikan peran organisasi sebagai pusat dari ekosistem tenis global, sekaligus membedakan posisi mereka dari entitas komersial lainnya seperti ATP Tour untuk kategori pria dan WTA Tour untuk kategori wanita.
Target ambisius yang dipasang oleh World Tennis adalah meningkatkan populasi pemain tenis dunia dari 106 juta menjadi 140 juta orang pada tahun 2035. Hutchins menegaskan bahwa meskipun angka tersebut cukup tinggi, mereka yakin target ini realistis jika seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem tenis bersinergi untuk menjangkau audiens baru yang belum tersentuh.
Di tengah tuntutan para pemain bintang, termasuk Novak Djokovic, mengenai perlunya persatuan dan transparansi pembagian pendapatan di dunia tenis, langkah ini dipandang sebagai upaya penyatuan. Hutchins menegaskan komitmennya untuk mendorong kolaborasi lintas organisasi, yang dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah fragmentasi di masa depan dan membawa tenis ke era yang lebih inklusif bagi seluruh kalangan.