Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat secara intensif menggelar operasi pengendalian populasi ikan sapu-sapu di sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas meningkatnya populasi ikan invasif tersebut yang telah mengancam kelangsungan hidup biota asli serta integritas infrastruktur perairan di wilayah ibu kota.
Sepanjang periode tersebut, sebanyak 3.604 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat mencapai 1.190 kilogram berhasil diangkat dari berbagai titik perairan. Upaya pembersihan ini mencakup lokasi-lokasi krusial seperti Kali TSI, Waduk Bojong, Kali Pesanggrahan, Kali Semongol, hingga aliran Banjir Kanal Barat dan Kali Angke. Penangkapan massal ini menjadi komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keseimbangan ekosistem sungai yang kerap terganggu oleh spesies asing.
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukanlah penghuni asli perairan Indonesia. Kemampuannya untuk beradaptasi di lingkungan ekstrem, termasuk perairan yang tercemar, membuat populasinya meledak tanpa adanya predator alami yang mampu menekan pertumbuhannya. Tanpa intervensi manusia, keberadaan ikan ini dalam jumlah besar dapat memicu ketidakseimbangan rantai makanan yang merugikan spesies ikan lokal.
Selain ancaman biologis, ikan ini juga memberikan dampak fisik yang merusak infrastruktur kota. Kebiasaan mereka membuat lubang-lubang di dinding turap sungai menyebabkan struktur beton tersebut menjadi rapuh dan rentan jebol. Kerusakan turap ini tentu meningkatkan risiko banjir dan menambah beban biaya pemeliharaan infrastruktur bagi pemerintah daerah.
Kepala Sudin KPKP Jakarta Barat, Bety Rahmawati, menegaskan bahwa operasi ini dilakukan dengan prosedur ketat untuk memastikan ikan yang tertangkap tidak kembali ke perairan. Ikan hasil tangkapan segera dimatikan dan dikubur di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kembangan. Langkah ini diambil untuk mencegah potensi penyalahgunaan ikan, mengingat adanya oknum yang kerap memburu ikan ini untuk diolah menjadi bahan pangan.
Secara kesehatan, konsumsi ikan sapu-sapu dari sungai perkotaan sangat tidak dianjurkan. Ikan ini memiliki sifat pemakan segala (omnivora) dan cenderung hidup di dasar sungai yang kaya akan sedimen beracun. Berdasarkan pengujian, banyak ditemukan kandungan bakteri E. coli, Salmonella, hingga logam berat seperti timbal yang menumpuk di jaringan tubuh ikan tersebut.
Pengolahan ikan sapu-sapu menjadi produk makanan seperti siomay atau olahan lainnya oleh oknum tidak bertanggung jawab merupakan ancaman kesehatan serius bagi masyarakat. Paparan logam berat secara terus-menerus dapat memicu gangguan kesehatan kronis. Oleh karena itu, edukasi publik mengenai bahaya mengonsumsi hasil tangkapan dari sungai tercemar menjadi bagian integral dari upaya pemberantasan ini.
Fenomena invasi ikan sapu-sapu di Jakarta mencerminkan tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan urban di Indonesia. Banyak sungai di kota-kota besar Indonesia menghadapi masalah serupa, di mana spesies invasif mendominasi karena minimnya pengawasan terhadap pelepasan ikan peliharaan ke perairan umum. Hal ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tidak membuang hewan peliharaan ke sungai secara sembarangan.
Ke depan, Sudin KPKP Jakarta Barat dipastikan akan terus memantau titik-titik rawan populasi ikan sapu-sapu. Strategi penangkapan yang dilakukan secara berkala dinilai sebagai langkah paling efektif saat ini untuk menekan penyebaran mereka. Pemerintah juga diharapkan dapat mulai memikirkan metode pengendalian hayati atau teknis lainnya yang lebih berkelanjutan daripada sekadar penangkapan manual.
Selain pengawasan fisik, kolaborasi dengan komunitas masyarakat di sekitar bantaran sungai sangat diperlukan. Partisipasi warga dalam melaporkan lonjakan populasi ikan sapu-sapu di lingkungan mereka akan membantu mempercepat respon pihak berwenang. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran warga menjadi kunci utama agar sungai-sungai di Jakarta kembali menjadi habitat yang sehat bagi ekosistem lokal.