Internasional

Jalan Buntu Strategi 'Pintu Belakang' Eksportir China ke Amerika Serikat via Vietnam

Jalan Buntu Strategi 'Pintu Belakang' Eksportir China ke Amerika Serikat via Vietnam

Ringkasan

  • Strategi eksportir China memindahkan basis produksi ke Vietnam untuk menghindari tarif AS kini menemui jalan buntu akibat ketidakpastian operasional.

Hampir satu dekade yang lalu, salah satu eksportir tekstil terbesar asal China merancang strategi untuk memitigasi hambatan perdagangan yang dipicu oleh kebijakan proteksionis Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Pemilik perusahaan meyakini bahwa memindahkan basis produksi utama dari wilayah pesisir timur China ke Vietnam adalah solusi permanen untuk menghindari tarif tinggi. Dengan memindahkan operasional ke Vietnam, mereka berharap dapat terus memasok kebutuhan ritel Amerika Serikat, seperti kaus kaki dan handuk, tanpa terbebani hambatan tarif yang ketat.

Pada tahun 2017, Jasan Group mencoba mendahului dinamika kebijakan perdagangan tersebut dengan mendirikan basis produksi di provinsi Hung Yen, Vietnam. Langkah ini terbukti efektif pada awalnya, memberikan penghematan biaya tarif yang signifikan bagi perusahaan. Di saat banyak rekan bisnis mereka di China terjebak dalam ketidakpastian perdagangan antara Beijing dan Washington, Jasan Group sempat menikmati keuntungan kompetitif yang cukup besar berkat relokasi tersebut.

Namun, situasi berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Strategi yang sebelumnya dianggap sebagai solusi jangka panjang kini justru berujung pada kegagalan. Berdasarkan laporan dari berbagai media bisnis dan media pemerintah di China, Jasan Group memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari Vietnam, yang diikuti dengan pembatalan kontrak-kontrak penting secara mendadak.

Perubahan arah yang tiba-tiba ini terjadi hanya beberapa bulan setelah perusahaan mengumumkan investasi pabrik baru di provinsi Thanh Hoa, Vietnam, pada September lalu. Rencana investasi senilai 180 juta yuan atau sekitar 26,6 juta dolar AS tersebut seharusnya mampu memproduksi 60 juta pasang kaus kaki per tahun yang ditargetkan untuk pasar Amerika Serikat. Namun, pada Februari lalu, perusahaan secara resmi membatalkan proyek ambisius tersebut.

Dalam pengajuan resmi ke Bursa Efek Shanghai, Jasan Group mengungkapkan bahwa keputusan pembatalan dipicu oleh kendala akuisisi lahan yang tertunda serta adanya ketidakpastian operasional yang mendalam. Perusahaan merasa bahwa prospek ekspor dari Vietnam tidak lagi menjanjikan stabilitas yang mereka harapkan di tengah iklim kebijakan global yang terus berubah.

Fenomena yang dialami oleh Jasan Group menjadi cerminan bagi banyak eksportir China lainnya yang mencoba menghindari tarif Amerika Serikat dengan berpindah ke Asia Tenggara. Kini, mereka mulai menyadari bahwa strategi pemindahan basis produksi tidak menjamin perlindungan permanen. Ketidakpastian geopolitik dan pengetatan aturan perdagangan internasional terus membayangi efektivitas rantai pasok global, membuat para pelaku industri harus berpikir ulang mengenai strategi diversifikasi mereka.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menunjukkan bahwa relokasi manufaktur bukan sekadar solusi teknis untuk menghindari tarif, melainkan strategi berisiko tinggi yang rentan terhadap perubahan regulasi. Bagi industri di Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran penting bahwa stabilitas iklim investasi dan kepastian hukum adalah faktor penentu utama untuk menarik relokasi pabrik dari China, bukan sekadar memanfaatkan celah perdagangan jangka pendek.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
24 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit