James Maddison mengakui bahwa kekacauan rumah tangga justru menjadi pelarian mental saat ia terbenam di masa rehabilitasi terberat dalam kariernya. Gelandang berusia 29 tahun itu mengalami parah ligamen silang anterior (ACL) pada Agustus 2023, memaksa dia absen selama hampir seluruh musim Premier League 2023-2024. Di tengah sesi fisioterapi yang menguras tenaga, pasangan kembar fraternal — seorang putra dan seorang putri — lahir menambah jumlah anaknya menjadi lima orang, semua berusia lima tahun ke bawah.
Kehidupan sehari-hari yang dipenuhi ganti popok, malam tanpa tidur, dan kecelakaan kecil di rumah justru memberikan perspektif baru bagi Maddison. "Saya butuh gangguan positif itu," ujarnya kepada BBC Sport. "Pasangan saya hamil dan saya harus ada untuk dia, melupakan diri sendiri meski sedang melalui pengalaman traumatis dengan lutut saya." Ia menambahkan dengan tawa, "Banyak popok yang beterbangan, banyak kecelakaan di rumah, tapi semuanya akan berbaloi. Kita tetap mencintainya. Saya tidak akan menukarnya untuk apapun."
Cedera ACL yang dialami Maddison merupakan momok bagi setiap pemain sepak bola profesional. Prosedur operasi dan rehabilitasi biasanya memakan waktu sembilan hingga dua belas bulan sebelum pemain bisa kembali ke tingkat performa optimal. Bagi Maddison, yang baru bergabung dengan Spurs dari Leicester City pada musim panas 2023 seharga 40 juta ponsterling, timing cedera tidak bisa lebih buruk. Ia hanya sempat debut tiga kali sebelum lututnya ambruk saat laga melawan Chelsea pada November 2023.
Kebetulan kelahiran pasangan kembar kedua ini menempatkan keluarga Maddison dalam lingkaran eksklusif di dunia olahraga. Legenda tenis Roger Federer dan istrinya Mirka juga memiliki dua pasang kembar — putri kembar lahir 2009 dan putra kembar lahir 2014. Maddison mengakui bahwa perbandingan dengan Federer membuatnya tersenyum, meski tantangan mengurus lima anak di bawah lima tahun jauh lebih kompleks dari yang terbayang publik.
Anak sulungnya, Leo, berusia tiga setengah tahun saat ayahnya mulai absen panjang. Selama setahun, Leo hanya mengenal ayahnya sebagai sosok yang duduk di rumah dengan mesin terapi pada lututnya, bukan sebagai pemain yang berlari di lapangan. "Dia bahkan tidak ingat setahun lalu saat dia hadir di semua pertandingan," cerita Maddison. "Sekarang sudah saatnya dia datang ke stadion lagi dan benar-benar ingat Ayah bermain, bukan hanya Ayah duduk di rumah menonton dia dengan mesin di lututnya."
Dari perspektif psikologi olahraga, narasi Maddison menggarisbawahi pentingnya sistem dukungan sosial dalam proses *return to play*. Penelitian konsisten menunjukkan bahwa atlit yang memiliki jaringan keluarga kuat cenderung menunjukkan *coping mechanism* yang lebih adaptif saat menghadapi cedera jangka panjang. Gangguan positif (*positive distraction*) yang ia sebutkan sejalan dengan konsep *psychological detachment* — kemampuan memisahkan diri dari stresor terkait olahraga untuk memulihkan sumber daya mental.
Kasus Maddison juga menyoroti realitas tersembunyi di balik gemerlap Premier League: pemain-pemain top level adalah manusia dengan tanggung jawab keluarga yang masif. Di Indonesia, di mana liga domestik seperti Liga 1 mulai menerapkan standar profesionalisme lebih ketat, kisah ini relevan sebagai bahan refleksi bagi manajemen klub. Apakah klub sudah menyediakan dukungan psikologis dan fasilitas *family-friendly* bagi pemain yang menjalani rehabilitasi panjang? Belum tentu.
Sementara itu, Tottenham memasuki musim baru di bawah manajer Ange Postecoglou dengan harapan Maddison bisa konsisten hadir. Musim lalu, Spurs kekurangan kreativitas di tengah lapangan saat Maddison absen, terlihat dari performa tim yang melorot di babak kedua. Kesehatan lututnya kini menjadi kunci ambisi klub utara London untuk finis di empat besar dan berkompetisi di Liga Champions.
Maddison sendiri bersikap realistis namun optimis. "Saya hanya ingin tetap sehat dan tersedia," katanya menjelang laga pembukaan musim melawan Brentford. Setelah setahun menonton dari pinggir lapangan sambil mengurus lima anak, gelandang berdarah Inggris itu siap menulis babak baru — kali ini di dalam garis putih, bukan di ruang tamu rumahnya.