Jorge Messi menarik napas terakhirnya di sebuah klinik medis di kota kelahirannya, Rosario, pada Jumat (7/8) malam waktu setempat. Keluarga mengonfirmasikan kabar duka tersebut ke Reuters, menutup perjalanan seorang ayah yang menjadi fondasi karir putranya sejak usia dini. Kematiannya terjadi setelah Jorge menjalani perawatan intensif selama beberapa bulan, bergantian antara rumah sakit dan rumahnya ditemani istri Celia serta tiga anak lain: Rodrigo, Matias, dan Maria Sol.
Kabar duka ini menyusul periode yang penuh emosi bagi kapten Argentina. Hanya berminggu-minggu lalu, Lionel baru kembali ke Inter Miami setelah menghabiskan waktu di sisi ayahnya pasca-Piala Dunia. Selama bertahun-tahun, Jorge tidak hanya berperan sebagai orang tua, tetapi juga sebagai manajer dan penasehat kepercayaan yang mengurus kontrak dan negosiasi transfer, termasuk perpindahan historis ke Paris Saint-Germain pada 2021 dan kedatangan ke MLS tahun lalu.
Hubungan bapak-anak ini terukir dalam kenangan kolektif penggemar sepak bola dunia. Di awal Piala Dunia 2026, Lionel pecah menangis setelah mencetak hat-trick lawan Aljazair di laga pembukaan. Di konferensi pers pasca laga, ia mengakui air matanya bukan soal sepak bola, melainkan "masalah pribadi" dan "hari-hari sulit, yang memusingkan" yang dilalui keluarga. Behari kemudian, keluarganya mengeluarkan pernyataan resmi soal kondisi kesehatan Jorge yang memerlukan perawatan medis.
Newell's Old Boys, klub masa kecil Lionel di Rosario, menyampaikan ucapan duka melalui media sosial. "Kehadiran konstan dan kepemimpinan di balik layarnya esensial dalam mendukung setiap langkah Lionel," tulis klub tersebut. Ucapan tersebut menggarisbawahi peran Jorge yang jarang terlihat publik namun menentukan arah karir putranya sejak usia 13 tahun, ketika keluarga memutuskan pindah ke Barcelona demi pengobatan defisiensi hormon pertumbuhan.
Di Argentina, Jorge dikenal sebagai sosok yang menjaga privasi meski putranya menjadi ikon global. Ia jarang memberikan wawancara, memilih bekerja di balik layar. Namun, Lionel pernah mengungkap di dokumenter Netflix "Sean Eternal" bahwa validasi ayahnya menjadi tolok ukur setiap pertandingannya. "Sejak kecil, aku selalu butuh persetujuan ayahku. Setelah setiap laga, aku tanya padanya, 'Pa, bagaimana menurutmu mainku?'" ujar Lionel.
Kematian Jorge menandai akhir era bagi generasi penggemar yang mengenal duo ini sebagai simbol ikatan keluarga di tengah komersialisasi sepak bola modern. Bagi penggemar Indonesia yang mengagumi Lionel bukan hanya sebagai pemain tapi juga sebagai tokoh keluarga, momen ini mengingatkan bahwa di balik trofi Ballon d'Or delapan kali dan Piala Dunia 2022, ada sosok ayah yang mengorbankan ketenangan untuk memastikan bakat putranya tidak tersia-siakan.
Secara industri, Jorge meninggalkan warisan model manajemen berbasis kepercayaan keluarga — kontras tajam dengan era agen super seperti Jorge Mendes atau Pini Zahavi yang menguasai transfer global. Beberapa klub Indonesia saat ini mulai meniru pendekatan personal ini untuk pengembangan pemain muda, meski skala dan regulasi tentu berbeda. Kematian Jorge mungkin memicu refleksi ulang soal peran orang tua dalam karir atletik di era media sosial.
Mengenai masa depan, fokus kini beralih ke bagaimana Lionel menavigasi karir tanpa bayangan ayahnya di sisi lapangan. Inter Miami belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun diharapkan klub akan memberikan ruang waktu bagi kapten mereka. Sementara itu, penggemar di Jakarta, Surabaya, hingga Makassar yang bangun malam menonton laga Lionel di Apple TV+ kini berbagi ucapan duka di media sosial, membuktikan jangkau emosional sepak bola melampaui batas geografis.
Sejarah akan mencatat Jorge Messi bukan sebagai pelatih atau pemain, tapi sebagai arsitek diam yang membangun fondasi salah satu atlet terhebat sepak bola. Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat: di balik setiap keberhasilan atlet internasional, sering kali ada figur pendamping yang tak terlihat di papan skor — ayah, ibu, atau pelatih desa yang percaya sejak awal.