Internasional

Kampanye Anti-Narkoba Hong Kong Tuai Kontroversi Akibat Penggunaan AI

Kampanye Anti-Narkoba Hong Kong Tuai Kontroversi Akibat Penggunaan AI

Ringkasan

  • Kampanye anti-narkoba menggunakan AI dari otoritas penjara Hong Kong ditarik setelah dianggap justru mempromosikan penggunaan narkoba.

Departemen Layanan Pemasyarakatan Hong Kong (CSD) terpaksa menarik sebuah iklan layanan masyarakat yang bertujuan mengedukasi bahaya narkoba setelah menuai reaksi negatif dari publik. Video berdurasi satu menit yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan grup K-pop fiktif tersebut dianggap gagal menyampaikan pesan edukatif dan justru memicu ejekan di media sosial.

Video yang diberi judul "Obsession: The Sugar-Coated Trap" ini menampilkan empat karakter wanita yang masing-masing merepresentasikan jenis narkoba, yakni ganja, sabu, kokain, dan etomidate. Karakter-karakter tersebut digambarkan dengan gaya bintang K-pop yang menarik, lengkap dengan tarian dan dialog yang justru dianggap mempromosikan efek samping dari zat-zat terlarang tersebut alih-alih memberikan peringatan bahaya.

Respons netizen di berbagai platform media sosial seperti Threads sangat tajam. Banyak pengguna menilai bahwa cara presentasi video tersebut justru membuat narkoba terlihat menggiurkan. Salah satu komentar menyebutkan bahwa alih-alih takut, penonton justru merasa penasaran untuk mencoba karena karakter dalam video menjelaskan kenikmatan semu yang ditawarkan oleh zat-zat berbahaya tersebut secara gamblang.

Menanggapi kritik yang meluas, pihak CSD menyatakan bahwa mereka telah mendengarkan masukan publik dengan sangat serius. Meskipun sempat mencoba menyunting ulang video tersebut untuk memperjelas pesan tentang bahaya kesehatan, departemen akhirnya memutuskan untuk menghapus seluruh konten dari akun media sosial resmi mereka guna menghindari kesalahpahaman lebih lanjut di masa depan.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran otoritas Hong Kong terkait lonjakan kasus narkoba. Data statistik menunjukkan kenaikan hampir 30 persen dalam kasus pelanggaran narkoba tahun-ke-tahun, dengan peningkatan drastis sebesar 90 persen pada tersangka berusia di bawah 21 tahun. Tren ini dipicu oleh maraknya penyalahgunaan etomidate, sebuah anestesi medis yang sering disalahgunakan dalam bentuk vape.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi instansi pemerintah di seluruh dunia mengenai pentingnya strategi komunikasi kreatif yang tetap memperhatikan etika. Sebelumnya, Biro Keamanan Hong Kong juga sempat meminta maaf atas kesalahan dalam kampanye iklan serupa. Kasus ini menegaskan bahwa penggunaan teknologi AI dalam komunikasi publik memerlukan pengawasan ketat agar pesan yang disampaikan tidak justru kontraproduktif terhadap tujuan utamanya.

Mengapa Ini Penting

Kejadian ini menyoroti risiko penggunaan teknologi AI dalam komunikasi publik yang jika tidak dikelola dengan hati-hati dapat memicu dampak kontraproduktif. Bagi industri di Indonesia, kasus ini menjadi pembelajaran krusial bahwa kreativitas konten harus tetap selaras dengan etika dan konteks pesan agar tidak disalahartikan oleh audiens.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
30 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit