PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) secara resmi mengumumkan kebijakan strategis untuk menetapkan target pertumbuhan kredit yang lebih moderat sepanjang tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas dinamika kondisi makroekonomi global yang cenderung fluktuatif, dengan tetap memprioritaskan kualitas aset di atas volume penyaluran kredit.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menegaskan bahwa perseroan tidak akan memaksakan ekspansi kredit jika hal tersebut mengabaikan prinsip kehati-hatian atau prudential banking. Fokus utama manajemen saat ini adalah memastikan setiap pembiayaan yang disalurkan memiliki profil risiko yang terukur dan mampu menopang keberlangsungan bisnis bank dalam jangka panjang.
Dalam penyesuaian Rencana Bisnis Bank (RBB), KB Bank merevisi target pertumbuhan kredit yang sebelumnya dipatok pada angka 15 persen. Kini, target tersebut disesuaikan menjadi 8 hingga 12 persen, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Strategi penyaluran kredit ke depan akan difokuskan pada sektor-sektor produktif yang memiliki fundamental kuat serta ketahanan tinggi terhadap gejolak ekonomi. Direktur Kredit KB Bank, Henry Sawali, menyebutkan bahwa pemilihan debitur akan dilakukan secara selektif, terutama bagi pelaku usaha yang rentan terhadap volatilitas nilai tukar dan kenaikan biaya impor.
Untuk menjaga kesehatan portofolio, KB Bank terus mengoptimalkan upaya pemulihan kredit bermasalah melalui serangkaian strategi, termasuk penagihan intensif, penjualan portofolio, hingga lelang aset. Langkah ini terbukti efektif dalam memperbaiki rasio pinjaman berisiko (Loan at Risk/LAR) yang sebelumnya sempat mencapai level 65 persen pada tahun 2021.
Selain itu, perseroan berkomitmen penuh untuk menekan rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang tercatat sebesar 8,44 persen per Maret 2026. Dengan pendekatan yang lebih selektif dan prudent, KB Bank optimistis dapat memperkuat fundamental perusahaan di tengah tantangan ekonomi yang menuntut ketangkasan serta manajemen risiko yang presisi.