Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, masih terus berlangsung hingga memasuki hari keempat pada Jumat (3/7). Meski telah berupaya keras selama empat hari sejak api pertama kali muncul pada Selasa (30/6), petugas gabungan baru berhasil mengendalikan sekitar 30 persen dari total area yang terbakar. Kondisi di lapangan masih menunjukkan titik api yang aktif dengan kepulan asap tebal yang terus terbawa angin ke arah barat.
Strategi pemadaman terpadu terus dioptimalkan melalui jalur udara dan darat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menerjunkan dua unit helikopter water bombing untuk melakukan penyiraman dari ketinggian pada titik-titik yang sulit dijangkau oleh personel darat. Selain itu, sebanyak 18 unit armada pemadam kebakaran telah dikerahkan ke lokasi untuk memitigasi penyebaran api yang dipicu oleh tumpukan sampah yang mudah terbakar.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, menyatakan bahwa tantangan utama dalam proses pemadaman ini adalah embusan angin kencang yang sering kali memicu api merambat kembali. Petugas di lapangan bekerja selama 24 jam penuh untuk memanfaatkan momen saat kecepatan angin relatif rendah, terutama pada pagi hari, guna memaksimalkan penyemprotan air.
Untuk mempercepat proses pemadaman hingga ke bagian dalam gunungan sampah, otoritas terkait mulai menerapkan sistem inject. Metode ini melibatkan pemasangan pipa-pipa khusus yang dilubangi ke dalam tumpukan sampah untuk menyalurkan air langsung ke titik bara api di kedalaman. Sebanyak 30 personel dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan turut dilibatkan dalam penerapan teknik ini karena keahlian khusus mereka dalam menangani kebakaran lahan.
Selain metode inject, alat berat berupa excavator juga dikerahkan untuk melakukan pengerukan dan mengurai timbunan sampah yang telah basah. Langkah ini bertujuan untuk memecah gunungan sampah agar akses menuju titik api di bagian bawah lebih terbuka, sekaligus memastikan bara api benar-benar padam dan tidak menimbulkan titik api baru di kemudian hari.
Di tengah upaya teknis yang dilakukan pemerintah, ratusan warga sekitar menggelar salat istisqa di halaman Masjid Jami Al Mujahidin pada Jumat pagi. Ibadah ini dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar segera diturunkan hujan yang dapat membantu memadamkan kebakaran secara alami, mengingat dampak asap yang terus mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi TPA.