Kecelakaan laut mematikan kembali menimpa wilayah perairan Vietnam ketika sebuah speedboat terbalik di lepas pantai Pulau Phu Quoc pada Sabtu (11/7), menewaskan 15 wisatawan asal India. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait standar keselamatan transportasi laut di salah satu destinasi wisata paling populer Asia Tenggara, yang secara rutin dikunjungi jutaan wisatawan internasional setiap tahunnya.
Menurut laporan resmi yang diterima oleh Komisi Khusus sekaligus Perwakilan Khusus Pemerintah Provinsi Andhra Pradesh di New Delhi, Arja Srikanth, perahu cepat tersebut ditumpangi oleh 36 orang penumpang. Sebanyak 21 orang berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk penanganan medis, sementara dua korban lain dilaporkan dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan intensif. Pihak kepolisian Vietnam telah mengamankan lokasi dan memulai investigasi menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Dugaan awal dari otoritas maritim Vietnam menunjukkan kombinasi faktor cuaca buruk dengan gelombang laut yang tinggi serta kemungkinan kerusakan mekanis pada sistem kendali speedboat menjadi penyebab utama terbaliknya kapal. Cuaca di wilayah Teluk Thailand pada musim hujan memang sering tidak menentu, dengan angin kencang yang dapat menciptakan gelombang hingga 2-3 meter tinggi, sangat berbahaya untuk embarcasi kecil berbentuk speedboat yang memiliki stabilitas lebih rendah dibandingkan feri besar.
Insiden ini menyoroti isu keselamatan maritim yang berulang di Vietnam. Data Kementerian Transport Vietnam mencatat paling tidak 17 kecelakaan kapal penumpang terjadi sepanjang tahun 2023, dengan total 42 korban jiwa. Banyak embarcasi wisata di Phu Quoc dan Ha Long Bay beroperasi dengan standar keselamatan yang bervariasi, di mana beberapa operator mengutamakan keuntungan dengan mengabaikan kapasitas muat maksimum dan pemeliharaan rutin mesin serta peralatan keselamatan seperti jas pelampung dan perahu penyelamatan.
Pemerintah India melalui Kedutaan Besar di Hanoi dan Konsulat Umum di TP.HCM telah mengaktifkan protokol darurat dan berkoordinasi erat dengan otoritas Vietnam untuk identifikasi jenazah, penanganan korban luka, serta fasilitasi repatriasi jenazah ke India. Kementerian Luar Negeri India juga mengeluarkan peringatan perjalanan (travel advisory) bagi warganya yang berencana mengunjungi Phu Quoc, menyarankan untuk memilih operator wisata berlisensi resmi dan memeriksa peralatan keselamatan sebelum naik kapal.
Dampak ekonomi insiden ini diperkirakan signifikan bagi industri pariwisata Phu Quoc, yang baru pulih pasca-pandemi. Pulau ini menarik sekitar 5,4 juta kunjungan wisatawan tahun 2023, dengan wisatawan India menempati peringkat lima besar asal negara. Kepercayaan wisatawan asing terhadap standar keselamatan destinasi ini kini diuji, dan otoritas setempat diharapkan segera menerapkan audit keselamatan menyeluruh serta penegakan regulasi yang lebih ketat bagi seluruh operator perahu wisata.
Ahli keselamatan maritim, Nguyen Van Thanh dari Universitas Maritim Vietnam, menilai insiden ini sebagai "wake-up call" bagi industri. "Regulasi sudah ada, tapi enforcemen lemah. Banyak speedboat wisata dimodifikasi dari perahu nelayan tanpa perhitungan stabilitas naval architecture yang proper. Kita butuh sertifikasi laik layar ketat dan inspeksi berkala tak terduga," ujarnya. Ia juga menambahkan perlunya sistem monitoring cuaca real-time yang terintegrasi dengan pelabuhan keberangkatan untuk mencegah keberangkatan saat kondisi tidak memungkinkan.
Sementara proses investigasi berlangsung, korban jiwa dan keluarga mereka menunggu keadilan dan kompensasi. Kasus ini juga membuka diskusi regional tentang harmonisasi standar keselamatan maritim di ASEAN, mengingat banyak wisatawan lintas negara menggunakan jasa transportasi laut serupa di Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Kerjasama antaranegara dalam penegakan hukum maritim dan standar keselamatan penumpang menjadi semakin urgen demi mencegah tragedi serupa di masa depan.