Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, terus menunjukkan peran strategisnya sebagai mesin penggerak ekonomi, baik di tingkat regional maupun nasional. Sejak beroperasi pada tahun 2018 hingga triwulan I 2026, kawasan ini telah berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 5.000 orang, yang mayoritas merupakan warga lokal. Pencapaian ini menjadi bukti nyata kontribusi sektor industri dalam menekan angka pengangguran di Bintan.
Kepala Administrator KEK Galang Batang, Vita Budhi Sulistyo, menyatakan bahwa kehadiran kawasan ini berdampak signifikan terhadap penurunan tingkat pengangguran terbuka di Bintan, yang turun dari 8,21 persen pada tahun 2021 menjadi 4,53 persen pada tahun 2024. Ke depannya, KEK Galang Batang menargetkan penyerapan tenaga kerja hingga 20 ribu orang seiring dengan perluasan investasi di sektor industri pengolahan alumina.
Dari sisi investasi, KEK Galang Batang mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di kawasan ini mencapai Rp15,6 triliun, menjadikannya penyumbang investasi terbesar di wilayah Bintan. Tren positif ini berlanjut pada triwulan I 2026 dengan tambahan investasi sebesar Rp4,08 triliun, yang berkontribusi sekitar 71 persen terhadap total realisasi investasi di Bintan pada periode tersebut.
Saat ini, terdapat 26 perusahaan yang beroperasi di dalam kawasan, dengan PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) sebagai penggerak utama. Sebagian besar perusahaan merupakan Penanaman Modal Asing (PMA), terutama dari Tiongkok. Fokus utama saat ini adalah penyelesaian Smelter Grade Alumina (SGA) tahap II yang diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 4 juta ton per tahun.
Selain proyek utama tersebut, pengembangan kawasan terus diperluas dengan rencana pembangunan industri kaustik soda, fasilitas smelter baru, serta penyediaan infrastruktur pembangkit listrik. PT BAI saat ini masih berkonsentrasi pada pemurnian bauksit menjadi SGA, sementara rencana pembangunan smelter lanjutan akan memanfaatkan suplai bahan baku bauksit yang didatangkan dari Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kepri, Hasfarizal Handra, menambahkan bahwa keberadaan KEK Galang Batang juga membawa dampak ekonomi turunan bagi UMKM lokal. Pasokan kebutuhan logistik operasional perusahaan banyak bersumber dari pelaku usaha kecil di sekitar kawasan. Dengan 14 KEK yang tersebar di wilayahnya, Kepulauan Riau kini memantapkan posisi sebagai provinsi dengan jumlah KEK terbanyak di Indonesia, yang menawarkan efisiensi birokrasi bagi para investor.