Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan bahwa program revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan pemerintah tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di sekitarnya. Peningkatan pendapatan warung-warung di sekitar lingkungan sekolah menjadi salah satu indikator keberhasilan dari pendekatan pembangunan yang bersifat inklusif.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang aman dan layak merupakan komitmen pemerintah untuk menjamin kualitas pembelajaran. Menurutnya, lingkungan sekolah yang mendukung sangat krusial dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan bagi siswa di seluruh tanah air.
Salah satu kunci efisiensi dalam program ini adalah penerapan skema swakelola. Mendikdasmen menjelaskan bahwa metode ini memungkinkan proses pembangunan berjalan lebih cepat sekaligus menyerap tenaga kerja lokal. Dengan melibatkan warga setempat sebagai pekerja konstruksi, dana proyek dapat berputar langsung di daerah, yang pada akhirnya menggerakkan roda perekonomian mikro di sekitar lokasi sekolah.
Implementasi nyata dari pendekatan ini terlihat di SMP Negeri 9, Kota Pangkalpinang. Sekolah tersebut menerima bantuan senilai Rp2,6 miliar untuk rehabilitasi ruang kelas, fasilitas administrasi, serta sanitasi. Kepala sekolah, Ahmat Yamani, menyatakan bahwa pembentukan Tim Pembangunan Persiapan Satuan Pendidikan (P2SP) yang melibatkan masyarakat lokal terbukti efektif dalam mendukung efisiensi proyek sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi warga.
Hal serupa terjadi di SLB Negeri Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Dengan bantuan sebesar Rp1,43 miliar, sekolah tersebut berhasil memperbaiki ruang kelas, aula, dan asrama yang sebelumnya rusak. Kepala SLB Negeri Koba, Musdiyanto, menekankan bahwa keterlibatan komite sekolah dan warga sekitar sebagai tenaga kerja memberikan dampak ekonomi langsung. Pendapatan yang diterima warga dari upah proyek pun kemudian dibelanjakan di warung-warung sekitar, menciptakan perputaran ekonomi yang sehat.
Selain dampak ekonomi, revitalisasi ini juga menjadi solusi atas keterbatasan ruang belajar yang selama ini dialami banyak sekolah. Banyak fasilitas pendukung yang sebelumnya terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang kelas kini telah dikembalikan fungsinya. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan yang melibatkan partisipasi komunitas lokal mampu memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan standar fasilitas pendidikan sekaligus memperkuat daya beli masyarakat di daerah tersebut.