Jakarta - Kajian terbaru dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menegaskan bahwa ketahanan keluarga merupakan pilar krusial dalam menekan angka keinginan mengakhiri hidup pada anak dan remaja di Indonesia. Masalah ini dipandang bukan sekadar isu individu, melainkan fenomena kesehatan masyarakat yang kompleks akibat interaksi antara kondisi psikologis, lingkungan keluarga, sekolah, hingga dinamika sosial.
Deputi Strategi Kebijakan Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Kemendukbangga, Ukik Kusuma Kurniawan, menjelaskan bahwa pendekatan sektoral tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan kesehatan mental remaja saat ini. Menurutnya, diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif, preventif, dan berbasis pada siklus kehidupan keluarga untuk menghadapi perubahan pola pengasuhan di era digital.
Kajian tersebut merekomendasikan penguatan sistem pendukung yang lebih terintegrasi. Hal ini mencakup penguatan layanan konseling di institusi pendidikan, peningkatan kapasitas guru dan tenaga kesehatan dalam mendeteksi dini gejala gangguan mental, serta membangun sistem rujukan yang responsif agar setiap anak mendapatkan intervensi tepat waktu sebelum mencapai fase krisis.
Peneliti Kemendukbangga/BKKBN, Teguh Santoso dan Indira Adithyanti, menemukan bahwa keinginan mengakhiri hidup biasanya tidak terjadi secara mendadak. Proses ini merupakan akumulasi dari tekanan hidup berkepanjangan dan stres yang tidak tertangani. Oleh karena itu, peran keluarga sebagai pendeteksi dini dan sistem pendukung utama menjadi langkah intervensi yang paling menentukan bagi keselamatan anak.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, di mana persentase siswa usia 11–17 tahun yang mencoba mengakhiri hidup melonjak dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Angka ini menempatkan kelompok remaja sebagai kelompok yang paling rentan terhadap krisis kesehatan mental di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Ukik menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan kebijakan yang dirumuskan dapat diimplementasikan dengan nyata. Pembangunan keluarga yang tangguh sangat krusial bagi Indonesia dalam menyongsong bonus demografi, agar generasi mendatang dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, berkarakter, produktif, dan memiliki daya saing yang tinggi di masa depan.