Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengecam Amerika Serikat setelah Negeri Paman Sam melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Iran pada Sabtu (18/7) waktu setempat. Serangan tersebut merupakan balasan atas tewasnya dua tentara AS dalam serangan Iran di Yordania sehari sebelumnya.
Khamenei menyampaikan pernyataan tertulis melalui akun media sosial X yang berisi tiga pesan utama kepada Washington dan rakyat Iran. Ia menuding AS sebagai "Setan Besar" yang tidak bisa dipercaya karena berulang kali melanggar nota kesepahaman yang ditandatangani presiden kedua negara.
Eskalasi kali ini bermula dari serangan rudal balistik dan drone Iran yang menyasar Yordania pada Jumat (17/7). Dua personel militer AS tewas saat berupaya menghadang serangan itu, sementara satu prajurit lain masih dinyatakan hilang. Peristiwa tersebut menambah daftar korban dari pihak Amerika sejak konflik kembali pecah pada 28 Februari, dengan total 16 tentara AS meninggal.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa serangan udara terbaru ke Iran dilakukan untuk malam kedelapan berturut-turut. CENTCOM menyatakan operasi itu dirancang untuk melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz serta menghukum Garda Revolusi Iran (IRGC) yang melancarkan serangan di Yordania.
Kantor berita Iran, Fars dan Tasnim, melaporkan bahwa serangan AS menghantam Sirik, kota pelabuhan di pesisir Selat Hormuz, Iran selatan. Selat tersebut merupakan jalur strategis yang setiap hari dilintasi tanker membawa sepertiga pasokan minyak global, sehingga ketegangan langsung berdampak pada harga energi internasional.
Bagi Indonesia, pergerakan di Selat Hormuz bukan sekadar berita luar negeri. Negara kita mengimpor mayoritas kebutuhan minyak mentah melalui rute Timur Tengah. Apabila konflik memicu penutupan atau gangguan navigasi, biaya logistik dan subsidi BBM dalam negeri berpotensi membengkak pada kuartal berikutnya.
Produsen dan pengguna teknologi di Tanah Air juga terdampak tidak langsung. Kenaikan harga energi mengerek biaya operasi pusat data serta industri semikonduktor yang sensitif terhadap tarif listrik. Startup lokal dengan burn rate tinggi bisa merasakan tekanan margin jika volatilitas berlanjut hingga akhir tahun.
Di sisi lain, pesan Khamenei kepada warga Iran menekankan persatuan nasional di tengah ancaman eksternal. Ia menyinggung fenomena "rally around the flag" di mana dukungan publik terhadap pemerintah meningkat saat negara menghadapi musuh luar. Situasi serupa sempat terlihat di Indonesia saat krisis diplomasi, meski dalam skala dan konteks berbeda.
"Pelanggaran yang berulang kali dilakukan oleh Setan Besar terhadap nota kesepahaman kembali menyingkap satu kenyataan mendasar: tanda tangan Presiden Amerika Serikat sama sekali tidak bernilai," ucap Khamenei dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa paksaan dan kekejaman merupakan bagian tak terpisahkan dari doktrin Washington.
Khamenei juga menggambarkan "Poros Perlawanan" sebagai simbol kekuatan Iran untuk membalas di tengah situasi rumit. "Hari ini Setan Besar kembali memperlihatkan wajah aslinya tanpa topeng," tegasnya, seraya menyebut episode terbaru sebagai bukti ketidakjujuran AS.
Proyeksi ke depan menunjukkan risiko serangan timbal balik akan tetap tinggi selama IRGC dan CENTCOM saling berhadapan di perairan strategis. Diplomasi tertutup mungkin digencarkan, namun ruang untuk deeskalasi tampak sempit mengingat MoU yang ada sudah dibilang tidak kredibel oleh pihak Iran.
Pengamat hubungan internasional memperkirakan harga minyak Brent akan terus fluktuatif jika satu pekan ke depan masih ada serangan di Selat Hormuz. Pasar keuangan Indonesia perlu mengantisipasi pelemahan rupiah akibat tekanan impor energi, kecuali ada jaminan keamanan pelayaran dari koalisi multinasional.
Warga Indonesia yang beraktivitas di sektor perdagangan digital juga disarankan memantau rantai pasok perangkat elektronik. Sebagian komponen masih bergantung pada pabrik di kawasan yang terdampak kenaikan biaya angkut akibat rute pengiriman yang dialihkan.