Internasional

Korea Selatan Di bawah Kewaspadaan Darurat Saat Hari Panas Meningkat

Ringkasan

  • Korea Selatan mengeluarkan peringatan panas ekstrem darurat pertama di bawah sistem baru karena hari-hari panas meningkat, mendesak penduduk untuk menghentikan aktivitas luar ruangan saat suhu mencapai 38°C.

Korea Selatan mengeluarkan peringatan panas ekstrem darurat pertama di bawah sistem peringatan baru yang diluncurkan tahun ini pada hari Minggu, mendesak penduduk untuk menghentikan aktivitas luar ruangan dan mencari tempat teduh. Sistem baru ini diperkenalkan untuk menghadapi peningkatan jumlah gelombang panas yang menjadi lebih panjang dan lebih intens, kata para pejabat.

Peringatan darurat dikeluarkan ketika wilayah yang mengalami gelombang panas diprediksi mencapai suhu terasa 38 derajat Celsius (102 derajat Fahrenheit) atau suhu aktual 39 derajat Celsius selama satu hari. 'Badan Meteorologi Korea mengeluarkan Peringatan Panas Ekstrem Darurat pukul 10 pagi ini untuk dua kota di provinsi North Gyeongsang bagian selatan – Gyeongsan dan Pohang,' kata kepala badan tersebut Lee Mi-seon dalam konferensi pers. 'Ini adalah pertama kalinya peringatan tersebut dikeluarkan sejak sistem mulai berlaku,' tambahnya. Wilayah yang terdampak mengalami suhu yang memenuhi kriteria darurat selama akhir pekan.

Tren gelombang panas di Korea Selatan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, dengan durasi dan intensitas yang semakin panjang, yang mencerminkan pola perubahan iklim global. Peningkatan suhu ekstrem ini menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan, termasuk peningkatan kasus sengatan panas, dehidrasi, dan komplikasi pernapasan, serta menekan jaringan listrik karena permintaan pendinginan meningkat.

Sistem peringatan baru tersebut mencakup empat tingkat – normal, perhatian, peringatan, dan darurat – dan menggunakan indeks suhu terasa yang memperhitungkan kelembapan untuk memberikan penilaian risiko yang lebih akurat. Pejabat mengatakan kerangka kerja yang diperbarui ini bertujuan untuk memberikan respons yang lebih proaktif dan terkoordinasi di seluruh pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan sektor swasta.

Sehari setelah peringatan dikeluarkan, banyak kantor, sekolah, dan proyek konstruksi menghentikan operasi luar ruangan. Pejabat kesehatan mendesak masyarakat untuk tetap di dalam ruangan, minum banyak air, dan menggunakan pendingin udara, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan mereka yang memiliki kondisi medis. Lonjakan permintaan listrik telah memicu kekhawatiran tentang stabilitas jaringan dan telah mendorong utilitas untuk bersiap melakukan penjatahan jika diperlukan.

Dampak ekonomi dari gelombang panas juga terasa, dengan sektor pariwisata, pertanian, dan perdagangan luar ruangan mengalami penurunan pendapatan. Diperkirakan bahwa biaya terkait panas dapat meningkat menjadi miliaran won ketika gelombang panas berlangsung lebih lama, mendorong perdebatan tentang asuransi bencana dan dana bantuan pemerintah.

Di kawasan Asia Timur, gelombang panas di Korea Selatan terjadi bersamaan dengan suhu ekstrem yang melanda Jepang dan Tiongkok baru-baru ini, yang menunjukkan tantangan regional yang berkembang yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Bagi Indonesia, yang menghadapi suhu siang hari yang tinggi dan peningkatan kelembapan, peristiwa ini menyoroti kebutuhan akan sistem peringatan dini yang kuat dan solusi perkotaan yang adaptif.

Ke depan, Korea Selatan diharapkan akan menyempurnakan sistem peringatan, berinvestasi pada infrastruktur pendinginan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keselamatan saat panas ekstrem. Bagi Indonesia, ini merupakan pengingat penting untuk memperkuat ketahanan iklim, memanfaatkan teknologi untuk pemantauan lingkungan, dan merancang kebijakan yang melindungi kesehatan masyarakat dan ekonomi dari ancaman panas yang semakin meningkat.

Mengapa Ini Penting

Peringatan panas ekstrem di Korea Selatan menunjukkan bagaimana perubahan iklim dapat memicu krisis kesehatan masyarakat yang membutuhkan respons cepat dan sistem peringatan canggih. Bagi Indonesia, yang juga rentan terhadap kenaikan suhu dan kelembapan, hal ini menjadi peringatan untuk memperkuat infrastruktur peringatan dini dan kebijakan adaptasi iklim. Sektor teknologi di Indonesia memiliki peluang untuk berkontribusi melalui pengembangan sensor cuaca pintar, platform prediksi, dan solusi manajemen energi yang dapat membantu mengurangi dampak gelombang panas di masa depan.

Sumber Asli
SCMP
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit