Badan Meteorologi Korea Selatan (KMA) mengeluarkan peringatan darurat gelombang panas tingkat tertinggi untuk kota Gyeongsan dan Pohang pada Minggu (12/7) pagi, karena suhu mencapai hampir 39°C (102°F). Peringatan ini merupakan "peringatan darurat gelombang panas" pertama yang diperkenalkan KMA untuk merespons peningkatan suhu musim panas yang ekstrem. Menurut Korea Joongang Daily, peringatan tingkat tertinggi ini dirancang khusus guna menyampaikan bahaya suhu yang tidak dapat diatasi sistem peringatan lama.
Kriteria peringatan darurat ini mencakup setidaknya dua hari berturut’turut dengan suhu terasa (feels-like) mencapai 35°C atau lebih tinggi, serta perkiraan suhu terasa minimal 38°C selama sehari atau suhu maksimum siang hari 39°C ke atas. Pada 1 Juni lalu, KMA merombak sistem peringatan panasnya untuk pertama kali dalam 18 tahun dengan menambahkan tingkat tertinggi baru, guna memperingatkan masyarakat tentang situasi suhu yang sangat berbahaya.
Data terkini menunjukkan Gyeongsan dan Pohang mengalami lonjakan suhu signifikan pada akhir pekan ini. Hayang-eup di Gyeongsan mencatat suhu harian tertinggi 39,9°C pada Sabtu (11/7), sementara Gigye-myeon di Pohang mencapai 37,2°C. Kedua wilayah tersebut diprediksi akan mempertahankan suhu mendekati 39°C pada hari Minggu.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mendesak warga di kedua kota untuk segera menghentikan atau menunda aktivitas di luar ruangan. Peringatan ini bertujuan mencegah kasus heatstroke, dehidrasi, dan komplikasi kesehatan lainnya yang sering meningkat tajam saat gelombang panas melanda.
Dampak kesehatan ini tidak hanya membebani rumah sakit, tetapi juga mendorong pemerintah setempat membuka pusat pendingin (cooling center) dan meningkatkan kesiapsiagaan tim darurat. Fasilitas kesehatan kini harus mempersiapkan diri untuk lonjakan pasien, terutama lansia, anak‑anak, dan penderita penyakit kronis.
Meskipun Korea Selatan dikenal sebagai negara beriklim sedang, gelombang panas ekstrem ini mencerminkan tren global pemanasan iklim. Negara‑negara tropis seperti Indonesia pun mulai merasakan dampak tidak langsung, mulai dari peningkatan kelembapan hingga gelombang panas yang lebih intens akibat perubahan pola cuaca.
Teknologi memainkan peran penting dalam menghadapi ancaman ini. Sistem peringatan baru KMA memanfaatkan jaringan sensor canggih dan model prediksi berbasis AI untuk memberikan informasi lebih cepat dan akurat. Data ini menjadi dasar bagi perencanaan kota yang adaptif, seperti penanaman vegetasi peneduh dan perencanaan ulang infrastruktur perkotaan.
Secara ekonomi, gelombang panas berdampak pada sektor pertanian, pariwisata, dan permintaan listrik untuk pendinginan. Petani terpaksa mengurangi aktivitas lapangan, sementara tempat‑tempat wisata menghadapi penurunan pengunjung. Lonjakan permintaan listrik untuk AC juga berisiko memicu defisit pasokan jika tidak diantisipasi dengan baik.
Ke depannya, adaptasi terhadap gelombang panas ekstrem perlu menjadi prioritas dalam kebijakan iklim Korea Selatan. Pembangunan infrastruktur tahan panas, peningkatan efisiensi energi, dan edukasi masyarakat tentang keselamatan panas akan menentukan ketahanan nasional di tengah perubahan iklim yang semakin tidak terduga.