Internasional

KTT SCO Bishkek: Tiga Pemimpin Anti-Barat Perkuat Sumbu Multipolar di Tengah Sanksi AS

Ringkasan

  • Presiden Rusia Vladimir Putin, China Xi Jinping, dan Iran Masoud Pezeshkian akan bertemu di KTT SCO ke-25 di Bishkek, Kirgizstan, Senin (31/8) untuk memperkuat kerjasama menghadapi tekanan Barat.

Kira-kira 12 kepala negara berkumpul di ibu kota Kirgizstan untuk memperingati dua puluh lima tahun berdirinya Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), forum regional yang kini mencakup sepuluh negara anggota dan lima belas mitra dialog. Pertemuan dua hari ini digelar di saat Rusia masih terlibat perang di Ukraina, Iran menghadapi tekanan sanksi total dari Washington, dan China terlibat perang dagang dengan Amerika Serikat.

Kedatangan Pezeshkian menarik perhatian khusus mengingat Iran baru bergabung SCO pada 2023. Presiden Iran dijadwalkan hadir berdampingan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi dan Pakistan Shehbaz Sharif dalam sesi pleno yang dipimpin Presiden Kirgizstan Sadyr Japarov. Di luar sidang, Putin diperkirakan akan menggelar pertemuan bilateral terpisah dengan Xi dan Pezeshkian untuk membahas kerjasama militer serta ekonomi yang semakin erat.

Latar belakang geopolitik ini tak terpisah dari dinamika global pasca-pandemi. Sejak invasi Ukraina 2022, Rusia semakin bergantung pada China sebagai pasar energi utamanya, sementara Iran menjadi pemasok drone dan teknologi militer untuk mesin perang Kremlin. AS merespons dengan sanksi sekunder yang menargetkan sektor emas, teknologi, aset digital, penerbangan, dan transportasi maritim Iran — serta mengancam negara mitra yang melanggar embargo.

China, sebagai pembeli minyak Iran terbesar, menjawab dengan tegas bahwa Peking akan "mempertahankan kepentingannya dengan tegas". Sikap ini memperkuat narasi Putin dan Xi yang berulang kali menggunakan panggung SCO untuk mengkritik apa yang mereka sebut hegemoni Barat. Di KTT tahun lalu, Putin menuduh negara-negara Barat memicu konflik Ukraina, sementara Xi mengecam "tindakan intimidasi" dalam konteks ketegangan Teluk Taiwan.

Perkembangan SCO dari forum keamanan dan ekonomi regional menjadi platform geopolitik mencerminkan pergeseran kekuatan global. Organisasi yang didirikan 2001 kini mengklaim mewakili 40 persen populasi dunia dan 25 persen PDB global. Anggota barunya, Belarus, memperkuat blok Rusia, sedangkan kehadiran Turki, Arab Saudi, dan Qatar sebagai mitra dialog menandakan daya tarik SCO melampaui batas Asia Tengah.

Namun, keanekaragaman kepentingan anggota menciptakan tantangan internal. India dan China tetap bertengkar soal batas Himalaya, sedangkan Pakistan dan India memiliki sejarah permusuhan nuklir. Afghanistan sebagai negara pengamat menambah kompleksitas keamanan regional. Pakar hubungan internasional Mohammad Hassan Najmi menilai Iran memandang keanggotaan SCO sebagai salah satu jalan untuk mengelak sanksi Barat, namun manfaat konkretnya masih ragu karena aliansi semacam ini belum terbukti menyelesaikan krisis ekonomi saat negara menghadapi tekanan ekstrem.

Bagi Indonesia, dinamika ini menegaskan relevansi politik bebas aktif yang digulirkan sejak Konferensi Asia-Afrika 1955. Meskipun bukan anggota SCO, Jakarta mempertahankan hubungan strategis dengan semua pihak — Rusia, China, Iran, India, Pakistan, dan AS. Pertumbuhan SCO sebagai blok non-Barat menciptakan ruang diplomasi alternatif bagi negara-negara Global Selatan yang tidak ingin terjebak dalam polarisasi dua kutub.

Secara ekonomi, Indonesia perlu mengantisipasi dampak tidak langsung. Penguatan kerjasama Rusia-Iran-China dalam energi dan teknologi militer bisa memengaruhi harga komoditas global dan rantai pasok. Di sisi lain, perluasan jaringan mitra dialog SCO ke Timur Tengah membuka peluang ekspor produk halal dan kreatif Indonesia ke pasar baru yang selama ini sulit dijangkau karena sanksi Barat.

Langkah selanjutnya akan tergantung pada hasil deklarasi Bishkek. Jika SCO berhasil menginstitusionalkan mekanisme pembayaran non-dolar dan koridor logistik yang menghindari sistem SWIFT, organisasi ini bisa berkembang dari forum simbolis menjadi blok ekonomi fungsional. Tren multipolaritas ini tidak akan mundur — dan Indonesia harus siap menavigasi lanskap yang semakin pecah-belah namun penuh peluang.

Mengapa Ini Penting

KTT SCO ini bukan sekadar pertemuan simbolis — ia menandai penguatan blok non-Barat yang mencoba membangun infrastruktur ekonomi dan keamanan terpisah dari sistem dominan AS. Bagi Indonesia, ini berarti dunia semakin terpecah menjadi dua ekosistem: satu berpusat pada dolar dan SWIFT, satunya lagi mengembangkan alternatif berbasis yuan, ruble, dan rupee. Perusahaan Indonesia yang berdagang dengan Iran atau Rusia harus siap menghadapi risiko sanksi sekunder, tapi juga peluang masuk ke pasar 3 miliar penduduk blok SCO. Jangka panjang, keberhasilan SCO menciptakan sistem pembayaran lintas batas non-dolar akan menentukan apakah Indonesia perlu mendiversifikasi cadangan devisa dan kerjasama bank sentral ke arah multipolar.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
29 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit