Tim penyelamat kembali turun ke lokasi bencana di wilayah perbatasan Nepal-Tibet setelah sempat menghentikan operasi selama beberapa jam akibat ketakutan banjir kedua. Otoritas bencana Nepal mengonfirmasi angka korban jiwa telah menyentuh 579 orang, sementara 1.924 orang lainnya dilaporkan hilang. Di sisi Tibet, otoritas China mencatat paling tidak lima orang tewas dan 558 orang hilang. Angka korban diperkirakan akan terus bertambah seiring tim penyelamat berhasil menjangkau daerah-daerah yang terisolir oleh lumpur dan jalan rusak.
Bencana ini bermula pada Rabu (27/8) pagi ketika sebagian gletser di ketinggian 5.200 meter di Himalaya runtuh, menjatuhkan massa es dan batu sekitar 1.200 meter ke dasar lembah. Longsor masif itu menghantam Sungai Lende, menciptakan gelombang banjir bandang yang meluncur ke selatan melalui Distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal. Dalam 30 menit, ketinggian air Sungai Trishuli melonjak sembilan meter, menenggelamkan pemukiman dan infrastruktur di jalurnya. Survei Geologi AS (USGS) yang awalnya menduga gempa bumi sebagai pemicu, merevisi temuan mereka: sinyal seismik yang terekam justru berasal dari guncangan longsor itu sendiri.
Runtuhnya gletser ini bukan peristiwa terisolir, melainkan cerminan krisis iklim yang mempercepat degradasi gletser di Himalaya. Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa pemanasan global membuat gletser di wilayah ini mengecil dan menjadi tidak stabil. Ketika massa es yang menopang lereng gunung meleleh, batuan di bawahnya kehilangan tumpuan dan rentan runtuh. Fenomena ini menciptakan risiko banjir pecah danau gletser (GLOF) yang bersifat tiba-tiba dan destruktif. Nepal, yang memiliki ribuan danau gletser, berada di garis depan ancaman ini.
Kebentukan danau baru di lokasi runtuhnya gletser menambah ketegangan. Badan endapan longsor yang menahan air andau dinilai sangat rapuh. Alton Byers, ilmuwan bahaya gletser dari Institute of Arctic and Alpine Research Universitas Colorado Boulder, menilai bendungan alami itu "tidak memiliki banyak penahan". Ia memperingatkan risiko pecahnya andau tetap tinggi, meski tim China menilai ancaman sudah terkendali dan memungkinkan evakuasi dilanjutkan. Byers menyarankan drainase alami bertahap sebagai skenario terbaik, atau pengurasan manual menggunakan alat sederhana — teknik yang pernah diterapkan di negara lain rawan GLOF.
Bagi Indonesia, bencana ini mengingatkan akan kerentanan gletser di Papua. Gunung Jayawijaya menyimpan gletser tropis terakhir di Asia Tenggara, yang menurut data BMKG dan Lapan telah menyusut drastis selama beberapa dekade. Meskipun skala berbeda, mekanisme runtuhnya gletser dan potensi banjir bandang di hilir sungai memiliki kemiripan fundamental. Pemantauan gletser dan danau gletser di Papua perlu diperkuat, termasuk sistem peringatan dini berbasis satelit dan sensor lapangan, agar bencana serupa bisa diminimalisir dampaknya bagi masyarakat di sekitar aliran sungai seperti Mamberamo atau Digul.
Pemerintah China telah mengirimkan Premier Li Qiang ke Gyirong, salah satu titik terparah, untuk memimpin respons darurat. Presiden Xi Jinping memimpin rapat tingkat tinggi dan memerintahkan pejabat merumuskan rencana pencarian dan penyelamatan secara ilmiah serta memperkuat pemantauan danau gletser. Langkah ini menunjukkan kesadaran Beijing akan urgensi mitigasi bencana gletser di dataran tinggi Tibet, yang menjadi menara air bagi ratusan juta orang di Asia.
Bantuan internasional mulai mengalir. India, PBB, Federasi Palang Merah, Australia, Korea Selatan, dan AS telah mengirimkan tim dan logistik. Namun, tantangan geografis tetap menjadi hambatan utama. Lereng curam, cuaca ekstrem, dan akses jalan yang putus memaksa tim penyelamat berjalan kaki atau mengandalkan helikopter — yang terbatas operasinya akibat visibilitas rendah. Ribuan warga di pedalaman Nepal dan Tibet masih menunggu bantuan hingga laporan ini disusun.
Ahli geologi menilai frekuensi dan intensitas bencana semacam ini akan meningkat seiring percepatan pemanasan global. Himalaya, sering dijuluki "Kutub Ketiga", menyimpan cadangan es terbesar di luar Antartika dan Arktika. Kehilangan massa es di wilayah ini tidak hanya memicu bencana lokal, tetapi mengancam keamanan air untuk ratusan juta orang di lembah sungai Indus, Ganges, Brahmaputra, dan Mekong. Kolaborasi lintas batas dalam pemantauan gletser dan manajemen risiko bencana bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Di tingkat nasional, Indonesia perlu mempercepat integrasi data gletser Papua ke dalam sistem mitigasi bencana nasional. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian PUPR dan BPBD daerah harus merancang skenario evakuasi untuk masyarakat di hilir aliran sungai yang berpotensi terdampak pecahnya andau gletser. Investasi pada teknologi pemantauan jarak jauh dan pembangunan kapasitas masyarakat lokal menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Sementara operasi pencarian berlangsung, fokus jangka panjang harus dialihkan ke adaptasi iklim. Pembangunan infrastruktur tangguh bencana, perencanaan tata ruang yang menghindari zona rawan banjir bandang, dan penguatan tata kelola air transnasional adalah investasi yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan biaya bencana. Tragedi Nepal-Tibet adalah peringatan keras: gletser yang meleleh tidak mengenal batas politik, dan konsekuensinya dirasakan bersama.