Internasional

Kushner Bicara dengan Pemimpin Hamas soal Rencana Perdamaian Gaza

Ringkasan

  • Envoy AS Jared Kushner bertemu ketua Hamas Khalil al-Hayya di Mesir untuk membahas pelaksanaan rencana perdamaian Gaza yang didukung Trump.

Envoy AS Jared Kushner bertemu ketua Hamas Khalil al-Hayya di Kairo pada hari Minggu untuk membahas pelaksanaan rencana perdamaian Gaza yang didukung Donald Trump. Pertemuan ini menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara pihak AS dan Hamas sejak gencatan senjata Oktober lalu.

Turut hadir dalam rapat tersebut duta perdamaian Board of Peace Nickolay Mladenov, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta wakil Mesir, Qatar, dan Turki yang selama ini memediasi upaya damai. Tidak ada pernyataan resmi yang diterbitkan, namun laporan menyebut pembahasan berfokus pada pengurangan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel, dan upaya kemanusiaan.

Latar belakangnya adalah dokumen 15 poin Board of Peace yang dirancang Trump, yang menuntut pemberhentian penuh senjata Hamas dan milisi lain di Gaza, penarikan tentara Israel, serta pembangunan kembali Gaza di bawah administrasi sipil Palestina baru. Board of Peace sendiri dibentuk sebagai organisasi internasional yang awalnya hanya menangani Gaza, lalu diperluas ke konflik global.

Israel menolak rencana tersebut pekan lalu. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa tentara Israel tidak akan mundur sebelum Hamas benar-benar diwakili. “Israel menolak dokumen 15 poin Board of Peace. TNI Israel tidak akan melakukan penarikan apapun sampai Hamas benar-benar diwakili,” ujar Netanyahu.

Penolakan Israel memicu protes dari delapan negara Muslim. Dalam pernyataan bersama pada hari Minggu, Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Turki, Pakistan, dan Indonesia menilai sikap Israel mengancam upaya perdamaian Trump. Indonesia ikut menandatangani pernyataan tersebut, menegaskan komitmen Jakarta pada solusi dua negara.

Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2023 tetap bertahan, meskipun Angkatan Pertahanan Israel (IDF) telah melancarkan beberapa serangan di Khan Yunis dan Nuseirat dengan alasan Hamas melanggar gencatan senjata. Perang dimulai setelah serangan Hamas ke selatan Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 251 sandera.

Balasan militer Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 orang di Gaza, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dianggap andal oleh PBB. PBB memperkirakan sekitar 1,9 juta warga — 90 persen populasi Gaza — tergeser sejak perang pecah, menciptakan krisis kemanusiaan yang parah.

Netanyahu menegaskan kembali posisinya: “Israel menolak dokumen 15 poin Board of Peace. TNI Israel tidak akan melakukan penarikan apapun sampai Hamas benar-benar diwakili.” Pernyataan ini menunjukkan kekakuan Israel meskipun tekanan internasional semakin besar.

Pernyataan bersama delapan negara Muslim menyoroti bahaya eskalasi jika Israel terus menolak rencana AS. “Penolakan Israel terhadap rencana perdamaian AS mengancam upaya Trump untuk mencapai kedamaian,” tulis pernyataan itu, yang juga ditandatangani Indonesia.

Langkah selanjutnya dijadwalkan hari Senin, di mana Kushner, Mladenov, dan Blair akan bertemu Netanyahu di Yerusalem untuk mendorong kemajuan rencana. Diplomasi multilateral ini diharapkan dapat memecah kebuntuan, meskipun kepercayaan antara pihak-pihak yang bersengketa masih rendah.

Analis menilai peluang keberhasilan bergantung pada kemampuan mediator Mesir, Qatar, dan Turki untuk menjamin keamanan Israel sekaligus memenuhi tuntutan kemanusiaan di Gaza. Jika penarikan senjata Hamas tercapai, pintu pembangunan kembali Gaza bisa terbuka, namun risiko provokasi tetap tinggi.

Bagi Indonesia, terlibat dalam pernyataan bersama menegaskan peran diplomasi bebas aktif Jakarta di Timur Tengah. Dukungan Indonesia pada solusi dua negara dan penolakan terhadap eskalasi kekerasan selaras dengan prinsip kebijakan luar negeri yang konsisten mendukung perdamaian dan kemanusiaan.

Mengapa Ini Penting

Keterlibatan Indonesia dalam pernyataan bersama delapan negara Muslim menegaskan posisi diplomatik Jakarta yang konsisten mendukung solusi dua negara dan menentang eskalasi kekerasan. Keberhasilan atau kegagalan rencana Trump akan memengaruhi stabilitas regional yang berdampak pada keamanan energi dan perdagangan Indonesia. Selain itu, krisis kemanusiaan di Gaza menuntut respons solidaritas dari negara-musuh besar seperti Indonesia, baik melalui bantuan langsung maupun advokasi di forum internasional.

Sumber Asli
BBC News
Tanggal
16 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit