Sebuah ledakan bom mengguncang sebuah kafe di pusat ibu kota Suriah, Damaskus, pada Kamis (2/7/2026). Insiden mematikan ini dilaporkan merenggut nyawa sembilan orang dan menyebabkan 20 lainnya mengalami luka-luka. Hingga saat ini, belum ada pihak atau kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Ledakan terjadi di dekat Istana Kehakiman, sebuah gedung pemerintahan yang vital dan ramai di pusat kota. Situasi di lokasi kejadian digambarkan sangat mencekam, dengan kepanikan melanda warga sekitar. Ambulans segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi para korban, sementara aparat keamanan langsung memasang garis polisi untuk mengamankan area dari kerumunan warga.
Menurut keterangan televisi pemerintah Suriah, ledakan tersebut dipicu oleh alat peledak yang sengaja ditanam di lokasi kejadian. Saksi mata di sekitar lokasi menceritakan bahwa guncangan akibat ledakan tersebut sangat kuat, bahkan terasa hingga ke toko-toko di seberang jalan, mengingatkan warga pada situasi konflik masa lalu.
Gubernur Damaskus, Maher Eldibi, yang meninjau langsung lokasi kejadian, menegaskan bahwa pihak berwenang telah meluncurkan investigasi mendalam. Ia berjanji bahwa pelaku di balik tindakan keji ini akan segera diidentifikasi dan diadili. Eldibi menilai serangan ini sebagai upaya pihak-pihak tertentu untuk mengacaukan stabilitas yang tengah dibangun di negara tersebut.
Komunitas internasional segera memberikan respon atas kejadian ini. Wakil utusan khusus PBB untuk Suriah, Claudio Cordone, mendesak agar para pelaku segera diseret ke pengadilan. Selain itu, Turki bersama sejumlah negara Arab seperti Irak, Yordania, Qatar, dan Mesir telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk keras aksi teror tersebut.
Peristiwa ini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa. Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, otoritas baru berusaha keras untuk memulihkan keamanan dan menyatukan kembali negara yang telah dilanda perang selama lebih dari satu dekade. Serangan ini menjadi pengingat bahwa upaya stabilisasi di Suriah masih menghadapi ancaman keamanan yang nyata.