Gaya Hidup

Lingkaran Sosial Kunci Sukses Gaya Hidup Sehat, Survei Herbalife Ungkap

Ringkasan

  • Survei Herbalife Asia Pacific 2026 melibatkan 10.000 responden mengungkap bahwa 82 persen orang menganggap kesehatan holistik penting, namun dukungan lingkaran sosial menjadi kunci mengubah niat sehat menjadi kebiasaan nyata.

Hasil survei terbaru dari Herbalife Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026 membuka mata banyak pihak: keinginan untuk hidup sehat ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan praktik nyata sehari-hari. Survei yang melibatkan lebih dari 10.000 responden di 11 pasar Asia Pasifik, termasuk Singapura, menemukan bahwa 82 persen responden menganggap kesehatan holistik sangat penting. Namun, kurang dari separuh responden menilai kondisi fisik, mental, atau emosional mereka dalam kategori sangat baik.

Temuan ini menegaskan adanya jurang yang selama ini jarang disadari antara niat baik dan tindakan nyata. Banyak orang tahu bahwa pola makan sehat dan olahraga itu penting, tetapi hanya sedikit yang berhasil menjalaninya secara konsisten. Pertanyaannya kemudian, apa yang sebenarnya mendorong seseorang mengubah niat menjadi kebiasaan yang bertahan lama?

Survei tersebut menjawab: dukungan dari orang-orang terdekat. Lingkungan sosial memegang peran yang jauh lebih besar daripada sekadar motivasi pribadi. Sembilan dari sepuluh responden mengaku bahwa teman dan keluarga menjadi pengaruh positif terbesar bagi kesejahteraan mereka dalam setahun terakhir. Angka ini menegaskan bahwa kesehatan bukanlah perjalanan yang harus ditempuh sendirian.

Konsep kesehatan holistik memang tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial. Kesejahteraan fisik, mental, dan emosional saling terkait satu sama lain. Ketika seseorang dikelilingi orang-orang yang mendukung, menjalani pola hidup sehat terasa lebih ringan. Sebaliknya, tekanan hidup yang berkepanjangan tanpa dukungan sosial justru bisa merusak kesehatan fisik.

Menariknya, survei juga menunjukkan adanya pergeseran perilaku yang signifikan. Hampir separuh responden (47 persen) mengaku pernah menyiapkan atau membeli makanan sehat untuk orang lain. Proporsi yang sama juga menyatakan bahwa mereka membagikan perjalanan wellness pribadi kepada orang lain. Sekitar delapan dari sepuluh responden yang melakukan dua hal tersebut mengaku melakukannya lebih sering dibandingkan tiga tahun lalu.

Fenomena ini menggambarkan bahwa kesehatan semakin menjadi aktivitas bersama, bukan lagi urusan individual. Seseorang yang ingin tidur lebih awal akan lebih mudah melakukannya saat seluruh anggota keluarga juga mengurangi penggunaan gawai di malam hari. Demikian pula dengan olahraga, bergabung dengan komunitas bersepeda atau sekadar berbagi progres dengan teman dekat bisa menjaga motivasi tetap menyala.

Thomas Harms, Managing Director Herbalife Asia Pacific, menegaskan bahwa kesehatan tidak mudah dicapai secara terpisah. Menurutnya, orang-orang di sekitar memainkan peran penting dalam menyediakan dukungan harian yang diperlukan untuk mengubah niat baik menjadi kebiasaan. "Ketika keluarga, teman, dan komunitas membuat pilihan sehat bersama-sama, tujuan wellness menjadi lebih mudah dicapai dan dipertahankan," ujarnya.

Di Indonesia, temuan ini relevan dengan budaya gotong royong yang sudah mengakar. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan kegiatan bersama, baik dalam konteks keluarga maupun komunitas. Tradisi seperti kerja bakti, arisan, atau sekadar kumpul keluarga bisa menjadi wadah alami untuk membangun kebiasaan sehat secara kolektif. Potensi ini belum banyak digarap secara serius oleh para pelaku industri kesehatan.

Meski demikian, survei juga mengungkapkan bahwa kebutuhan akan dukungan masih tinggi. Hampir dua pertiga responden menyatakan ingin mendapat bantuan lebih untuk kesehatan fisik. Sementara itu, 51 persen menyebut kesehatan mental dan 46 persen kesehatan emosional. Kebutuhan paling mendasar adalah motivasi. Banyak orang tahu apa yang harus dilakukan, tetapi mereka tetap butuh dorongan untuk bertahan.

Dukungan yang diberikan tidak perlu rumit. Panduan dari otoritas kesehatan seperti HealthHub Singapura dan Institut Kesehatan Nasional AS menunjukkan bahwa gestur kecil yang praktis bisa membawa perubahan besar. Menanyakan kabar secara tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, dan merayakan pencapaian kecil sering kali lebih efektif daripada mengingatkan seseorang tentang apa yang seharusnya dilakukan.

Ada batasan yang perlu dipahami. Dukungan dari teman dan keluarga bukanlah pengganti perawatan profesional. Jika stres, gangguan tidur, atau masalah emosional berlanjut, langkah yang tepat adalah mendorong orang tersebut untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Kombinasi antara dukungan informal dan penanganan medis yang tepat akan memberikan hasil yang jauh lebih baik.

Ke depan, tren kesehatan sebagai aktivitas sosial diprediksi akan terus berkembang. Masyarakat semakin menyadari bahwa kebiasaan sehat yang dilakukan bersama-sama lebih mudah dipertahankan. Ini menjadi peluang bagi berbagai pihak, mulai dari penyedia layanan kesehatan hingga pengembang aplikasi fitness, untuk merancang solusi yang menekankan aspek kebersamaan dan dukungan sosial.

Mengapa Ini Penting

Temuan ini sangat relevan bagi Indonesia karena menantang anggapan bahwa kesehatan semata-mata soal disiplin pribadi. Masyarakat Indonesia yang dikenal komunal sebenarnya memiliki modal sosial besar untuk membangun ekosistem sehat bersama. Namun, tanpa kesadaran bahwa lingkungan terdekat bisa menjadi faktor penentu, banyak program wellness individual yang berakhir sia-sia. Implikasinya, industri kesehatan dan pembuat kebijakan di Indonesia perlu merancang intervensi berbasis komunitas, bukan hanya menargetkan perubahan perilaku individu.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
11 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit