Pemerintah Malaysia mengambil langkah tegas dalam upaya memberantas tindak perundungan di lingkungan sekolah asrama. Mulai hari Rabu, para veteran militer akan diterjunkan secara penuh sebagai pengawas asrama di sejumlah sekolah unggulan. Kebijakan ini diambil menyusul serangkaian kasus kekerasan yang memicu kemarahan publik terkait jaminan keselamatan siswa di lembaga pendidikan.
Sebanyak 16 mantan personel Angkatan Bersenjata Malaysia telah disiapkan untuk bertugas di delapan Mara Junior Science Colleges (MRSM). Inisiatif ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menciptakan kedisiplinan dan pengawasan yang lebih ketat di lingkungan sekolah, mengingat latar belakang para veteran yang memiliki pengalaman dalam penegakan aturan dan pengamanan.
MRSM sendiri merupakan jaringan sekolah berasrama milik negara yang dikenal dengan fokus pada pendidikan sains. Sekolah ini mayoritas menampung siswa bumiputra, yakni kelompok etnis Melayu dan penduduk asli Malaysia. Kehadiran mantan militer diharapkan mampu mengubah budaya sekolah menjadi lebih aman dan kondusif bagi proses belajar mengajar.
Langkah ini diambil hanya sehari setelah Ketua Mara, Asyraf Wajdi Dusuki, memberikan pernyataan keras terkait kasus perundungan yang menimpa seorang siswa berusia 14 tahun di Johor. Orang tua korban melaporkan bahwa anaknya terpaksa meminta pindah sekolah karena tidak sanggup lagi menahan tindakan perundungan yang dialaminya secara terus-menerus.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Asyraf menegaskan kebijakan "You touch, you go" atau "Sekali menyentuh (melakukan perundungan), maka kamu harus pergi". Ia memastikan bahwa pihak sekolah tidak akan memberikan kompromi bagi siapa pun yang terbukti melakukan perundungan di lingkungan MRSM, dengan sanksi tegas berupa pengeluaran siswa dari sekolah.
Fenomena ini menarik perhatian karena kemiripannya dengan alur cerita drama Korea yang sedang populer, di mana seorang veteran militer turun tangan untuk menghadapi perundung di sekolah. Dengan keterlibatan langsung personel berlatar belakang militer, otoritas Malaysia berharap dapat memberikan efek jera sekaligus memperbaiki citra sekolah asrama sebagai tempat yang aman bagi para siswa untuk menempuh pendidikan.