Personel Korps Marinir TNI AL menerjunkan tim patroli untuk menyusuri aliran Sungai Cileungsi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (14/7) tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem sungai sekaligus menekan ancaman pencemaran lingkungan.
Sungai sepanjang 39 kilometer ini merupakan arteri air penting yang mengalir dari Bogor hingga bermuara ke Kali Bekasi. Kerap kali, badan sungai ini menghadapi tekanan berat akibat aktivitas manusia di sepanjang bantarannya.
Kawasan yang dilintasi Sungai Cileungsi tidak hanya berupa permukiman padat penduduk, tetapi juga zona industri. Kombinasi ini menciptakan risiko tinggi terhadap penurunan kualitas air, terutama ketika sampah dan limbah dialirkan langsung tanpa pengolahan memadai.
Isu pencemaran sungai di Jabodetabek telah lama menjadi sorotan publik. Kehadiran ikan sapu-sapu dalam jumlah masif kerap dijadikan penanda visual bahwa ekosistem air telah terdegradasi. Kondisi ini memaksa berbagai pihak, termasuk unsur pertahanan negara, untuk melakukan pemantauan langsung di lapangan.
Peran TNI AL melalui Korps Marinir dalam patroli sungai bersifat multisektoral. Sumber daya air merupakan ranah strategis bagi ketahanan nasional, sehingga pengawasan teritorial tidak bisa hanya mengandalkan instansi sipil.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang bermukim di sekitar Bogor dan Bekasi, kualitas Sungai Cileungsi berdampak langsung pada pasokan air baku dan kesehatan lingkungan. Jika pencemaran tidak dikendalikan, biaya pengolahan air bersih di hilir akan melonjak tajam.
Upaya patroli semacam ini mencerminkan pergeseran peran militer di negara berkembang. Mereka tidak lagi sekadar menjaga perbatasan, tetapi juga menjadi aktor pendukung dalam mitigasi bencana ekologis. Pendekatan keamanan harus diimbangi dengan edukasi, sebab tanpa partisipasi warga, pengawasan fisik bersifat temporer.
Perbandingan dengan Sungai Citarum di Jawa Barat menunjukkan bahwa polusi air bersifat struktural dan butuh dekade untuk memulihkan ekosistem yang rusak. Langkah preventif melalui patroli dini jauh lebih efisien secara ekonomi dan ekologis daripada penanganan pasca-krisis.
Komandan Satuan Tugas Teritorial (Satgaster) Patroli Sungai, Letkol Marinir Baron Habibi, menegaskan bahwa penelusuran lapangan memberikan kemampuan bagi personel untuk mengidentifikasi kondisi sungai secara presisi. "Melalui penelusuran ini, kami dapat mengidentifikasi secara langsung kondisi sungai dan memantau potensi sumber pencemaran," ujarnya.
Selain pemantauan visual dan dokumentasi temuan, personel Marinir juga mengajak warga bantaran sungai agar tidak membuang sampah maupun limbah. Baron menekankan bahwa partisipasi masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga kualitas air, sekaligus mendorong kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.
Ke depan, koordinasi lintas instansi seperti Dinas Lingkungan Hidup dan kepolisian perlu diperkuat. Temuan pelanggaran di lapangan harus ditindaklanjuti dengan sanksi nyata agar efek jera tercipta bagi pelaku pencemaran.
Tren pengawasan berbasis komunitas diprediksi akan menyatu dengan intervensi negara. Apabila kesadaran ekologis warga Cileungsi meningkat, kelestarian 39 kilometer aliran sungai ini terjaga, memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem Kali Bekasi di hilir.