Perjalanan menghadapi diagnosis kanker bukan sekadar pertempuran melawan sel penyakit di dalam tubuh, melainkan juga perjuangan berat yang melibatkan kesehatan mental. Bagi banyak pasien, beban psikologis yang muncul sering kali melampaui kemampuan mereka untuk menanggungnya sendirian. Sasa Hui Yuen-sim, seorang pensiunan berusia 67 tahun, adalah salah satu individu yang harus menghadapi realitas pahit tersebut ketika ia didiagnosis mengidap kanker payudara pada Juni 2024, disusul dengan diagnosis kanker paru-paru setahun kemudian.
Kisah Sasa merupakan cerminan nyata dari tantangan kompleks yang dihadapi pasien kanker. Selain menjalani rangkaian pengobatan kanker yang melelahkan, ia juga harus berurusan dengan komplikasi kesehatan lainnya, seperti infeksi virus herpes zoster yang menyakitkan serta operasi pengangkatan nodul tiroid yang mengganggu fungsi pernapasan dan menelan. Belum lagi temuan nodul non-kanker di hatinya pada Oktober lalu yang menambah daftar kecemasan baru dalam hidupnya.
Dalam pengakuannya, Sasa mengungkapkan betapa rasa takut dan pertanyaan akan kapan penderitaan ini berakhir terus menghantuinya. Tekanan fisik yang hebat, ditambah dengan stres mental yang luar biasa, sering kali membuat pasien merasa terjebak dalam situasi yang tidak berujung. Kondisi ini menyoroti bahwa dukungan medis tradisional saja tidak cukup untuk menjaga kualitas hidup pasien selama masa perawatan.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa kesejahteraan mental dan kualitas hidup harus menjadi pilar utama dalam perjalanan pengobatan kanker. Sayangnya, dalam praktiknya, aspek psikologis sering kali mendapatkan prioritas yang lebih rendah dibandingkan dengan prosedur medis seperti kemoterapi atau pembedahan. Padahal, stabilitas mental terbukti memiliki dampak signifikan terhadap respons tubuh pasien terhadap pengobatan.
Program-program pendukung yang kini mulai banyak diterapkan di Hong Kong menunjukkan bahwa pergeseran pola pikir (mindset shift) dapat membantu pasien mengelola stres dan meningkatkan ketahanan emosional. Melalui bimbingan psikologis, komunitas pendukung, dan pendekatan holistik, pasien diajak untuk tidak hanya fokus pada penyakit, tetapi juga menemukan kembali harapan di tengah situasi yang sulit.
Penting bagi sistem kesehatan modern untuk mengintegrasikan layanan dukungan kesehatan mental sebagai bagian standar dari protokol perawatan kanker. Dengan memberikan perhatian yang seimbang antara penyembuhan fisik dan kesehatan psikologis, pasien seperti Sasa dapat memiliki peluang yang lebih baik untuk bertahan dan tetap memiliki kualitas hidup yang bermakna meski di tengah tantangan diagnosis yang berat.