Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan Kopi Gayo sebagai komoditas andalan dalam mendongkrak devisa negara. Hal tersebut disampaikan saat kunjungan kerja di kawasan pembibitan kopi Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Selasa (14/7). Fokus utama dari pengembangan ini adalah peningkatan produksi berkelanjutan yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani di wilayah dataran tinggi Gayo.
Menurut Amran, Kopi Gayo memiliki reputasi yang sudah mendunia sehingga tinggal bagaimana pemerintah dan pelaku usaha memaksimalkan potensi tersebut. Pengembangan komoditas ini bukan sekadar menambah volume ekspor, melainkan juga menjadi instrumen pemerataan ekonomi di ujung Sumatra. Pemerintah mencatat, nilai ekonomi yang dihasilkan dari sektor kopi di Aceh saat ini mencapai sekitar Rp4 triliun berdasarkan laporan pemerintah daerah.
Latar belakang dorongan ini cukup rasional mengingat Aceh, khususnya wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, memiliki ekosistem agroklimat yang ideal untuk perkebunan kopi arabika. Pemerintah pusat sebelumnya telah menggelontorkan dukungan penanaman kopi seluas 17.000 hektare di daerah tersebut. Total bibit yang disebar mencapai 17 juta batang yang tersebar di berbagai sentra produksi, menandakan skala investasi agrikultur yang masif di provinsi paling barat Indonesia itu.
Keberhasilan penanaman ini tidak lepas dari sinergi antara Kementerian Pertanian dengan jajaran pemerintah daerah. Amran mengapresiasi Wakil Gubernur Aceh serta para bupati di tiga kabupaten utama penghasil kopi yang dinilai berhasil mengawal proses pembibitan dan pendampingan petani. Tanpa manajemen yang baik, pertumbuhan tanaman kopi berkualitas tinggi sulit dicapai dalam waktu relatif singkat.
Selain faktor geografis, kualitas cita rasa Kopi Gayo telah diakui secara internasional. Pengakuan pasar global ini membuka peluang lebar bagi Indonesia untuk memperluas pangsa ekspor kopi dan memperkenalkan karakteristik kopi Nusantara kepada konsumen dunia. Beberapa pengiriman ekspor ke Amerika Serikat dan Denmark tercatat telah terlaksana, menjadi bukti bahwa rantai pasok dari Aceh sudah mulai menyambung ke pasar Eropa dan Amerika Utara.
Dampak dari penguatan komoditas Kopi Gayo ini sangat strategis bagi neraca perdagangan nasional. Pada 2025, nilai ekspor komoditas perkebunan nasional tercatat mencapai Rp40 triliun. Angka tersebut masih menyimpan ruang tumbuh yang besar apabila penguatan berbagai komoditas unggulan, termasuk kopi, dilakukan secara terstruktur.
Bagi petani lokal, kebijakan ini membawa angin segar. Pendapatan pekebun di Aceh tengah mengalami lonjakan signifikan seiring dengan naiknya harga dan volume produksi kopi. Kesejahteraan petani menjadi indikator utama keberhasilan program yang tidak hanya menguntungkan pengusaha besar, tetapi juga masyarakat akar rumput di pedesaan.
Di sisi lain, eksistensi penyuluh pertanian menjadi tulang punggung operasional di lapangan. Mereka terus mendampingi petani dalam setiap tahapan budidaya, mulai dari pemilihan bibit hingga pasca-panen. Tanpa pendampingan teknis yang intens, target produktivitas tinggi sulit terwujud mengingat tantangan iklim dan hama yang selalu mengintai perkebunan.
Amran menegaskan visi besarnya agar Kopi Gayo benar-benar menggetarkan dunia. "Jadi bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia, bila perlu seluruh dunia ini mencicipi Kopi Gayo. Ekspor kita sudah mencapai nilainya Rp40 triliun, kalau bisa kita tingkatkan sampai Rp100 triliun ke depan, bila perlu Rp200 triliun," ucapnya. Ia yakin potensi tersebut bisa direalisasikan karena masyarakat Aceh dikenal sebagai pekerja keras dan didukung oleh kepemimpinan daerah yang progresif.
Menteri juga menekankan bahwa pemerintah akan melanjutkan pengembangan kebun kopi pada tahun depan. Syarat mutlaknya adalah tanaman yang sudah ditanam saat ini harus dirawat secara optimal agar produktivitas terus meningkat. "Kita bangun Aceh, sejahterakan petani lewat Kopi Gayo yang sudah mendunia. Tinggal kita dorong sekarang agar mendongkrak ekspor," kata Amran menutup sesi kunjungan tersebut.
Ke depan, kolaborasi multipihak akan menjadi kunci utama. Pemerintah pusat, pemda, pelaku usaha, dan petani harus berada dalam satu rel yang sama untuk menembus target ekspor Rp200 triliun. Infrastruktur logistik dan fasilitas pengolahan pasca-panen juga perlu dibenahi agar nilai tambah kopi Gayo tidak hilang ke tangan roasteri asing.
Tren konsumsi kopi specialty di dunia yang terus meningkat merupakan momentum emas bagi Indonesia. Jika pemetaan dan sertifikasi kopi Gayo diperkuat, posisi tawar petani akan semakin tinggi. Pengembangan berkelanjutan ini diproyeksikan tidak hanya mendongkrak devisa, tetapi juga mengubah wajah ekonomi Aceh menjadi lebih mandiri dan berdaya saing global.