Internasional

Messi Kembali Latih Inter Miami Sepuluh Hari Usai Kekecewaan Final Piala Dunia

Ringkasan

  • Lionel Messi kembali berlatih dengan Inter Miami pada Rabu, sepuluh hari setelah Argentina kalah 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, menutup spekulasi pensiun ganda baik tingkat klub maupun timnas.

Kapten Argentina itu tampil di kompleks pelatihan Inter Miami di Fort Lauderdale dengan wajah tenang, melupakan drama perpanjangan waktu di Lusail yang mengakhiri mimpi Albiceleste mempertahankan gelar. Kehadirannya menjawab pertanyaan yang berputar selama pekan lalu: apakah sang legenda benar-benar akan menggantung sepatu usai kekecewaan pahit di Qatar.

Inter Miami memang tidak keberatan memberi ruang pada bintang utamanya. Klub itu mengantarkan Messi melewati dua laga pertama pasca-Piala Dunia — kemenangan atas Chicago Fire dan CF Montreal — yang keduanya diraih tanpa kehadiran nomor 10. Seri kemenangan enam laga itu mendorong The Herons menempati posisi kedua Konferensi Timur dengan 37 poin, hanya dua poin di belakang Nashville SC.

Kembalinya Messi ke rutinitas harian bukan sekadar soal kebugaran fisik. Usia 39 tahun, ia baru saja menyelesaikan Piala Dunia keenam dalam karier — rekor tersendiri — dengan mengumpulkan delapan gol dan empat assist. Di babak kedua laga pembuka Argentina, Messi mencetak gol ke-17 di sejarah Piala Dunia, melampaui Miroslav Klose. Sayangnya, Kylian Mbappe menutup turnamen dengan 22 gol, satu di atas akumulasi Messi yang kini bertengger di angka 21.

Di balik angka-angka statistik, ada narasi pribadi yang lebih berat. Selama turnamen, keluarga Messi mengumumkan Jorge Messi, ayah dan agen lama sang bintang, sedang berjuang melawan penyakit yang tidak diungkapkan jenisnya. Keputusan Messi tidak ikut MLS All-Star Game di Charlotte — memilih terbang ke Rosario menemani ayahnya — menunjukkan sisi kemanusiaan yang jarang terlihat di balik persona superstar.

Spekulasi pensiun memang tidak main-main. Beberapa media Argentina melaporkan Lionel Scaloni, pelatih timnas, sempat mengakui kesulitan membayangkan tim tanpa Messi. Di sisi klub, Jorge Mas dan David Beckham, pemilik Inter Miami, tidak pernah menyembunyikan keinginan menahan Messi setidaknya hingga musim 2027. Kontrak saat ini berakhir Desember 2025, dengan opsi perpanjangan satu tahun.

Bagi liga MLS, kehadiran Messi tetap menjadi aset komersial tak ternilai. Ratings televisi, penjualan tiket, dan merchandise melonjak sejak kedatangannya Juli 2023. Apple TV+ yang memegang hak siar global MLS Season Pass melaporkan lonjakan langganan signifikan setiap kali Messi bermain. Kembalinya ia ke lapangan berarti pulihnya "efek Messi" yang sempat redup selama dua pekan libur internasional.

Namun, tantangan fisik nyata. Musim MLS 2026 padat dengan format Leagues Cup, US Open Cup, dan play-off yang memaksa tim bermain hingga November. Di usia 39, manajemen beban (load management) bukan pilihan tapi keharusan. Gerardo "Tata" Martino, pelatih Inter Miami, sudah terbiasa memutar skuad dan membatasi menit bermain Messi di paruh kedua musim lalu.

Perspektif Indonesia: popularitas Messi di Nusantara tetap fenomena tersendiri. Komunitas penggemar Argentina di Jakarta, Surabaya, dan Medan rutin menggelar nonton bareng (nobar) hingga dini hari. Kehadiran Messi di MLS justru mempermudah akses tayang — liga ini disiarkan live di platform streaming yang mudah dijangkau publik Indonesia, berbeda dengan Liga Champions Eropa yang butuh langganan premium. Banyak anak muda Indonesia yang mulai mengenal MLS lewat nama Messi, menciptakan basis penggemar baru bagi sepak bola Amerika Utara.

Satu pertanyaan tetap menganga: apakah Messi akan langsung starter lawan Columbus Crew sabtu mendatang? Martino belum memberikan sinyal jelas. Logikanya, sepuluh hari istirahat total plus beberapa sesi latihan ringan belum tentu cukup untuk 90 menit penuh. Opsi masuk sebagai pengganti di menit ke-60 paling masuk akal, mengingat Inter Miami masih punya cadangan kedalaman skuad yang cukup berkualitas.

Jika Messi memutuskan tetap bertahan hingga Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, ia akan berusia 39 tahun saat turnamen berlangsung — usia yang tidak mustahil tapi sangat menuntut. Preceden terdekat adalah Dino Zoff yang menjuarai Piala Dunia 1982 di usia 40 tahun sebagai kiper. Untuk pemain lapangan, tantangan fisik jauh lebih besar. Namun, dengan gaya bermain yang kini lebih bergantung pada kecerdasan posisi dan passing daripada sprint, Messi mungkin justru bisa menyesuaikan diri.

Kembalinya ke latihan hari ini adalah langkah pertama. Yang menentukan bukan kehadiran di lapangan latihan, tapi bagaimana tubuh merespons beban penuh dalam minggu-minggu mendatang. Bagi jutaan penggemar di Indonesia yang bangun larut malam menontonnya, satu hal pasti: setiap menit Messi di lapangan tetap hadiah yang tak ternilai harganya.

Mengapa Ini Penting

Kembalinya Messi ke MLS bukan sekadar berita transfer, tapi penanda kelanjutan era komersial sepak bola Amerika Utara yang dibangun di atas nama-nama besar. Bagi industri olahraga Indonesia, ini mengajarkan pentingnya naratif pemain legendaris dalam membangun basis penggemar liga domestik — pelajaran yang relevan saat Liga 1 berusaha naik kelas. Dampak streaming global via Apple TV+ juga menunjukkan model distribusi konten olahraga masa depan yang bisa ditiru platform lokal.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit