Presiden Argentina Javier Milei menolak hadir langsung di final Piala Dunia 2026 antara Tim Tango dan Spanyol di MetLife Stadium, Amerika Serikat, Minggu (19/7) waktu setempat. Keputusan itu diambil bukan karena tugas negara, melainkan karena keyakinan takhayul bahwa rutinitas menonton dari kediaman resmi di Olivos membawa keberuntungan bagi timnas.
Milei, yang berusia 55 tahun, menyatakan akan terus menyaksikan seluruh pertandingan dari Istana Olivos seperti yang dilakukannya sepanjang turnamen. Ia menegaskan tidak mungkin datang ke stadion karena ritme tersebut sudah dianggap sebagai penentu nasib Argentina di lapangan. Sikap ini menarik perhatian mengingat final Piala Dunia adalah momen paling prestisius bagi sebuah negara juara bertahan.
Kebiasaan Milei bermula dari pola sederhana yang ia yakini memiliki pengaruh magis. Saat cuaca dingin, ia tidak menyalakan pemanas dan memakai jaket bermerek perusahaan minyak. Pada laga melawan Swiss, ia sempat melepas jaket karena merasa panas, dan tak lama kemudian Argentina kebobolan. Jaket itu dipakainya kembali dan sejak saat itu tidak pernah dilepas saat menonton.
Rutual semacam itu bukan hal asing di dunia sepak bola Argentina. Pelatih Lionel Scaloni sejak 2024 mengaku selalu menginjak rumput lapangan dengan kaki kanan lebih dulu sebelum pertandingan. Kebiasaan itu ia pertahankan sejak masih menjadi pemain, tanpa peduli hasil akhir laga. Tradisi serupa juga melekat pada kapten Lionel Messi, Rodrigo De Paul, dan Presiden AFA Claudio Tapia.
Ketiga figur tersebut rutin berfoto bersama sebelum laga besar sejak Copa America 2021. Ritual keberuntungan itu diulang jelang Finalissima 2022 dan final Piala Dunia 2022, dua pertandingan yang dimenangi Argentina. Menjelang final 2026 melawan Spanyol, foto bersama kembali dilakukan sebagai simbol penguat mental tim.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini mencerminkan betapa kuatnya dimensi psikologis dalam olahraga modern. Sepak bola tidak hanya soal taktik dan fisik, tetapi juga ritual yang menjaga kepercayaan diri pelaku dan suporter. Di tanah air, kebiasaan serupa kerap muncul pada level suporter maupun individu pemain, meski jarang diungkap ke publik secara terbuka oleh tokoh negara.
Industri siaran olahraga turut merasakan dampaknya. Ketidakhadiran kepala negara di stadion justru memperkuat tren penonton jarak jauh melalui layar. Platform streaming dan televisi mendapat limpahan audiens saat figur publik memilih menonton dari rumah, sekaligus membuka peluang iklan bertema kebersamaan virtual.
Di sisi lain, keputusan Milei menunjukkan batas yang tipis antara tugas representatif dan preferensi personal. Sebagai presiden negara juara bertahan, kehadirannya di stadion dapat menjadi simbol diplomatik. Namun ia memilih mitos kolektif yang dianggap lebih berpengaruh terhadap performa tim daripada sekadar protokol kenegaraan.
"Tidak mungkin datang ke stadion. Saya akan terus menonton semua pertandingan dari Olivos," ucap Milei merujuk pada kediaman resminya. Pernyataan itu sekaligus menepis spekulasi bahwa ia sengaja menghindari Amerika Serikat demi alasan politik.
Scaloni pernah menuturkan, "Saya sudah melakukannya sejak mulai bermain sepak bola dan tidak akan pernah berhenti. Apa pun hasil pertandingannya." Keyakinan pelatih asal Santa Fe itu memperlihatkan bahwa takhayul di Argentina berakar pada disiplin personal, bukan sekadar reaksi sesaat terhadap hasil buruk.
Argentina melaju ke final setelah bangkit menekuk Inggris 2-1 di semifinal pada Kamis (16/7). Kemenangan itu menjaga asa mempertahankan gelar dunia yang diraih 2022. Spanyol menanti sebagai lawan pamungkas dengan tekanan tersendiri bagi Messi dkk.
Ke depan, final 2026 akan menjadi ujian apakah rangkaian ritual tersebut memang membawa faktor kemenangan atau sekadar ilusi psikologis. Jika Argentina juara, takhayul Milei dan kawan-kawan dipastikan akan diabadikan sebagai bagian dari budaya sepak bola global yang kian digemari generasi digital Indonesia.