Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang memukul posisi Presiden Donald Trump tidak akan mengakhiri permusuhan Washington terhadap Teheran. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pasca-pemilu, Khamenei menyatakan bahwa siapa pun yang berharap adanya perubahan kebijakan luar negeri AS akibat pergeseran peta politik internal mereka adalah sebuah kesalahan besar.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kekalahan Partai Republik di kedua kamar Kongres AS. Khamenei menekankan bahwa sistem hegemonik Amerika tidak akan berubah hanya karena pergantian fraksi di parlemen. Ia secara tajam mengkritik pihak-pihak yang masih menggantungkan harapan pada konsesi diplomatik untuk meredam permusuhan AS, menyebut tindakan tersebut sebagai langkah yang sia-sia.
Ketegangan antara kedua negara memang telah mencapai titik didih dalam beberapa waktu terakhir. Khamenei secara spesifik menyinggung kontrol Iran atas Selat Hormuz sebagai bukti nyata bahwa mitos ketidakterkalahkan militer AS dapat dipatahkan. Ia pun memberikan peringatan keras bahwa setiap serangan baru terhadap Iran akan dibalas dengan respons yang lebih masif dan meluas, menandai kesiapan Teheran menghadapi eskalasi konflik.
Pesan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan penyitaan Kedutaan Besar AS di Teheran tahun 1979, yang di Iran dirayakan sebagai Hari Nasional Perjuangan Melawan Kesombongan Global. Ini merupakan salah satu pernyataan publik penting dari Mojtaba setelah kepemimpinan Iran mengalami transisi pasca-tewasnya Ali Khamenei dalam serangan udara AS-Israel pada Februari lalu.
Di kubu Washington, Donald Trump mengakui bahwa perang melawan Iran berdampak pada elektabilitas partainya. Namun, ia bersikeras bahwa kenaikan harga bahan bakar menjadi faktor determinan yang membuat pemilih AS berpaling. Trump menyatakan bahwa masyarakat Amerika mungkin mendukung kebijakan keras terhadap Iran, namun mereka enggan menanggung beban ekonomi jangka pendek akibat konflik tersebut.
Menariknya, Trump tidak menutup kemungkinan untuk melancarkan serangan militer skala besar. Dalam wawancara dengan Fox & Friends, ia mengakui adanya tekanan dari berbagai pihak yang mendorong opsi militer lebih ekstrem. Hal ini menciptakan ketidakpastian geopolitik yang semakin dalam, terutama di kawasan Timur Tengah yang saat ini berada di ambang ketidakstabilan ekonomi dan keamanan.
Pejabat tinggi Iran lainnya turut menanggapi hasil pemilu AS dengan narasi kemenangan moral. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai hasil pemilu sebagai bentuk penolakan rakyat Amerika terhadap perang. Ia menegaskan bahwa jika pemerintah AS mengabaikan aspirasi publiknya demi kepentingan pemberi dana internasional, mereka akan menghadapi mimpi buruk di masa depan.
Sementara itu, penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menyebut Trump telah menerima 'tamparan' dari rakyatnya sendiri. Bagi Iran, biaya perang yang ditanggung AS saat ini dianggap sebagai bukti keberhasilan strategi pertahanan mereka. Narasi ini digunakan oleh Teheran untuk memperkuat dukungan domestik di tengah tekanan sanksi dan ancaman militer.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa hubungan AS-Iran kemungkinan besar akan tetap berada dalam jalur konfrontatif, terlepas dari siapa yang memegang kendali di Kongres. Dengan retorika yang masih keras dari kedua belah pihak, kemungkinan deeskalasi dalam waktu dekat tampak sangat tipis. Pasar energi global pun diprediksi akan terus bergejolak merespons ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ke depannya, dunia internasional perlu mewaspadai potensi eskalasi yang tidak terduga. Jika Trump tetap mempertahankan opsi serangan besar, risiko konflik terbuka akan meningkat drastis. Iran tampaknya telah menyiapkan doktrin pertahanan yang lebih agresif, yang tidak lagi membatasi diri pada perang proksi namun siap merespons secara langsung terhadap kepentingan strategis AS di kawasan tersebut.