Internasional

Netanyahu Skeptis Diplomasi AS-Iran, Sebut Rezim Teheran Tak Akan Berkompromi

Ringkasan

  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai AS tidak akan mencapai deal dengan Iran, menyebut rezim Teheran 'biadab', saat Trump mendorong diplomasi untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai Amerika Serikat tidak akan mampu mencapai kesepakatan diplomatik dengan kepemimpinan Iran saat ini. Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah acara di sebuah permukiman Israel di Tepi Barat Palestina pada Selasa (25/8) malam, tempat ia menceritakan pertemuan terbarunya dengan Presiden AS Donald Trump.

Netanyahu mengaku telah membahas kemungkinan jalur diplomasi dengan Trump, namun ia tetap pesimis. "Saya ragu kesepakatan dapat dicapai dengan kelompok yang ada di sana, dengan orang-orang biadab itu," ujarnya sambil menegaskan bahwa ia telah menyampaikan ketidakpercayaan itu langsung kepada Trump. Di sisi lain, Netanyahu justru memuji tekanan ekonomi baru yang dilancarkan Trump terhadap Teheran.

Keskeptisan Netanyahu bukan hal baru. Ia sejak lama menentang pendekatan diplomatik terhadap program nuklir Iran, termasuk kesepakatan nuklir 2015 yang dinegosiasikan di bawah era Presiden Barack Obama. Namun, ia memilih berhati-hati mengkritik Trump secara terbuka meski keduanya memiliki pandangan berbeda soal cara mengakhiri konflik.

Perang antara Israel dan Iran meledak sejak Februari lalu setelah Trump mengotorisasi serangan gabungan AS-Israel ke fasilitas strategis Iran. Awalnya Trump memperkirakan konflik akan berakhir dalam enam hingga delapan pekan, namun realitas di lapangan menunjukkan pertarungan yang lebih panjang dan kompleks. Tekanan domestik dan internasional kini mendorong Trump mencari jalan keluar melalui meja perundingan.

Israel terlihat enggan menghentikan operasi militer. Laporan menunjukkan Israel kerap melancarkan provokasi yang justru mengganggu momentum perundingan, hingga membuat Trump frustrasi dan hubungan keduanya merenggang. Dinamika ini menciptakan celah strategis yang dimanfaatkan Iran untuk memperkuat posisi tawar menawar.

Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini memiliki dampak ganda. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketidakstabilan Selat Hormuz langsung memengaruhi inflasi dan anggaran subsidi energi domestik. Lebih dari 300 WNI baru saja dipulangkan dari Johor Bahru, Malaysia, menunjukkan kerentanan pekerja migran Indonesia terhadap geopolitik regional yang bergeser.

Analis keamanan regional menilai ketidaksepakatan antara Trump dan Netanyahu justru memperkuat posisi Iran. Teheran kini bisa bermain di dua meja: menawarkan kompromi terbatas kepada AS sambil melanjutkan dukungan terhadap proksi di Gaza, Lebanon, dan Yemen. Strategi "tekanan maksimum" yang digulirkan Trump sejak 2017 justru gagal menghentikan program nuklir Iran, yang kini mendekati ambang 90 persen pengayaan uranium.

"Kami tidak percaya pada niat baik rezim ini," kata seorang pejabat senior Israel yang meminta anonimitas, mengulang narasi Netanyahu. Namun, diplomat Eropa di Vienna menilai Israel justru menjadi hambatan utama. "Tanpa fleksibilitas Israel, Trump tidak punya ruang manuver untuk menawarkan insentif yang cukup bagi Iran," ujarnya.

Masyarakat Indonesia juga merasakan dampak tidak langsung melalui rantai pasok global. Harga gandum dan pupuk yang melonjak sejak awal perang memaksa pemerintah memperluas impor dan menyesuaikan kebijakan ketahanan pangan. Bank Indonesia telah tiga kali menaikkan suku bunga acuan tahun ini untuk menahan tekanan impor.

Ke depan, fokus perhatian bergeser ke apakah Trump akan memaksa Israel menerima kerangka perjanjian sementara — misalnya pembekuan program nuklir Iran sebagai imbalan pelonggaran sanksi bertahap. Netanyahu kemungkinan besar akan menolak formulasi apa pun yang tidak menjamin penghancuran total fasilitas nuklir Iran.

Jika kebuntuan berlanjut, risiko perang total meluas ke Teluk Persia semakin nyata. Indonesia sebagai negara maritim terbesar perlu mempersiapkan skenario darurat, termasuk evakuasi WNI dari wilayah konflik dan diversifikasi sumber impor energi. Kestabilan Timur Tengah bukan lagi urusan jarak jauh, melainkan variabel kritis dalam perhitungan ekonomi nasional.

Mengapa Ini Penting

Ketidaksepakatan Trump-Netanyahu soal Iran menciptakan kekosongan strategis yang justru memperkuat posisi Teheran di meja perundingan. Bagi Indonesia, perang yang berkepanjangan berarti tekanan inflasi terstruktur melalui harga energi dan komoditas, serta risiko keamanan bagi ratusan ribu TKI di wilayah Teluk. Kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia akan diuji kemampuannya menavigasi polarisasi kekuatan besar sambil melindungi kepentingan ekonomi domestik.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
26 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit