Dunia sains internasional kembali menyoroti perpindahan talenta peneliti papan atas. Chih-Ying Su, seorang neurobiolog ternama yang sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua fakultas di University of California San Diego (UCSD), secara resmi memutuskan untuk meninggalkan posisinya di Amerika Serikat guna bergabung dengan Shenzhen Academy of Medical Sciences (SMART) di China.
Keputusan Su untuk pindah ke SMART didorong oleh kekagumannya terhadap visi akademik yang diusung oleh presiden lembaga tersebut, Yan Ning. Menurut Su, fasilitas riset yang mutakhir serta atmosfer akademik yang sangat kondusif di SMART menjadi faktor penentu utama yang menarik perhatiannya untuk mengembangkan karier risetnya di sana.
Sebagai seorang ahli neurobiologi, Su dikenal luas berkat penelitian mendalamnya mengenai indra penciuman. Fokus utamanya terletak pada bagaimana neuron reseptor penciuman (ORN) mengolah informasi bau, yang merupakan sumber utama input sensorik dalam sistem saraf makhluk hidup. Penelitiannya telah diakui secara global dan dimuat dalam berbagai jurnal ilmiah prestisius seperti Nature, Neuron, Nature Communications, hingga PNAS.
Metodologi penelitian yang digunakan Su melibatkan lalat buah sebagai organisme model. Pemilihan lalat buah didasarkan pada efisiensi biaya serta siklus reproduksi yang cepat, yang memungkinkan peneliti untuk mengamati hukum dasar kehidupan secara lebih efektif. Menariknya, gen kunci dan jalur persinyalan pada lalat buah memiliki kesamaan yang signifikan dengan yang ditemukan pada manusia.
Selain kiprahnya di dunia sains, Su juga dikenal memiliki latar belakang unik sebagai mantan kapten tim taekwondo. Kombinasi antara disiplin ketat dalam olahraga dan ketajaman intelektual dalam laboratorium telah membentuk profilnya sebagai peneliti yang tangguh dan visioner. Transisi karier ini menandai babak baru bagi Su dalam mengejar inovasi di bidang kesehatan dan biologi molekuler.
Kepindahan Su ke China mencerminkan dinamika global dalam perebutan talenta riset tingkat tinggi. Dengan bergabungnya peneliti sekaliber Su ke SMART, lembaga tersebut kini diposisikan untuk memperkuat posisinya sebagai pusat riset medis terkemuka di Asia, sekaligus menantang dominasi riset neurobiologi yang selama ini terkonsentrasi di institusi-institusi Barat.