Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memberikan peringatan tegas terkait kondisi Gunung Merapi saat ini. Meskipun secara visual gunung tersebut tampak tenang, para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak merepresentasikan stabilitas yang sebenarnya. Berdasarkan data pemantauan periode 26 Juni hingga 2 Juli 2026, status aktivitas vulkanik Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Dalam kurun waktu satu minggu tersebut, aktivitas vulkanik tetap intens dengan tercatatnya empat kali luncuran awan panas. Tren ini berlanjut pada awal Juli, di mana pada Jumat (3/7) terjadi satu kali luncuran, disusul oleh tiga kali luncuran pada Sabtu (4/7) dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, menekankan bahwa ketenangan visual Merapi seringkali menyesatkan bagi masyarakat awam.
Agus menjelaskan bahwa ancaman erupsi di Gunung Merapi bersifat dinamis dan sulit diprediksi. Aktivitas guguran lava, awan panas, dan gempa vulkanik terus berlangsung di bawah permukaan kawah. Bahkan, potensi erupsi eksplosif yang terjadi secara tiba-tiba tetap menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai oleh seluruh pihak yang berada di sekitar kawasan rawan bencana.
Terkait aktivitas pendakian, BPPTKG mengingatkan bahwa kebijakan penutupan jalur pendakian yang telah berlaku sejak November 2020 masih dipertahankan hingga saat ini. Masyarakat dan wisatawan diminta untuk tidak mengabaikan protokol keamanan hanya demi mengejar estetika pemandangan. Mencari informasi dari sumber resmi sebelum berkunjung ke kawasan lereng Merapi adalah langkah krusial demi memastikan keselamatan diri.
Data pemantauan teknis menunjukkan aktivitas yang signifikan selama periode pengamatan. Guguran lava tercatat mengarah ke berbagai sektor, termasuk Kali Boyong, Kali Krasak, Kali Bebeng, dan Kali Sat atau Putih, dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter. Intensitas tertinggi tercatat pada arah hulu Kali Sat dengan 88 kali guguran lava yang teramati secara visual oleh petugas di lapangan.
Dari sisi kegempaan internal, jaringan seismik yang terpasang di sekitar gunung mencatat lonjakan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa perut bumi Merapi masih sangat aktif. BPPTKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengingat bahaya laten gunung api ini justru paling berisiko ketika kondisi visual terlihat seolah-olah sedang dalam keadaan normal.