Sains

Peraih Nobel Kimia Omar Yaghi Bergabung dengan Universitas Tsinghua untuk Kembangkan Riset Berbasis AI

Peraih Nobel Kimia Omar Yaghi Bergabung dengan Universitas Tsinghua untuk Kembangkan Riset Berbasis AI

Ringkasan

  • Peraih Nobel Kimia Omar Yaghi pindah dari UC Berkeley ke Universitas Tsinghua untuk memimpin riset material berbasis AI guna menjawab tantangan lingkungan global.

Pemenang Nobel Kimia tahun 2025, Omar Yaghi, secara resmi meninggalkan Amerika Serikat untuk memimpin pusat penelitian mutakhir yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI) di Universitas Tsinghua, Tiongkok. Langkah strategis ini menandai babak baru bagi ilmuwan material berusia 61 tahun tersebut dalam upaya mengintegrasikan teknologi AI ke dalam ranah sains dasar.

Dalam perannya yang baru, Yaghi akan memimpin tim riset yang berdedikasi untuk mentransformasi metode desain dan sintesis material baru. Pihak Universitas Tsinghua menyatakan bahwa penggunaan AI diharapkan mampu mempercepat siklus pengembangan material secara signifikan, mencapai efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional saat ini.

Pada upacara pelantikannya, Yaghi mengungkapkan visi ambisiusnya untuk menciptakan material inovatif yang dapat menjawab tantangan lingkungan global yang mendesak. Fokus utamanya mencakup solusi terhadap krisis kelangkaan air, pencapaian target netralitas karbon, serta promosi pembangunan berkelanjutan melalui teknologi kimia yang canggih.

Selain riset, Yaghi juga berkomitmen untuk melakukan transfer pengetahuan kepada generasi ilmuwan muda di Tiongkok. Ia menekankan pentingnya melatih para peneliti baru dalam penguasaan kimia berbasis AI, sebuah disiplin ilmu yang ia yakini akan menjadi masa depan inovasi sains global dalam beberapa dekade mendatang.

Sebelum bergabung dengan Tsinghua, Yaghi menjabat sebagai James and Neeltje Tretter Professor of Chemistry di University of California, Berkeley. Ia dikenal luas atas pencapaiannya dalam mengembangkan metal-organic frameworks (MOF), yakni material berpori yang mampu menangkap karbon, memanen air dari udara gurun, serta menyimpan hidrogen untuk energi bersih.

Kontribusi Yaghi dalam dunia akademik sangat besar, dengan catatan telah melatih sekitar 200 peneliti selama kariernya, di mana hampir separuh dari mereka merupakan ilmuwan asal Tiongkok. Kepindahannya ke Beijing dipandang oleh banyak pengamat sebagai penguatan signifikan bagi ekosistem riset Tiongkok dalam persaingan teknologi global.

Mengapa Ini Penting

Kepindahan ilmuwan kaliber Nobel ke Tiongkok menunjukkan pergeseran gravitasi pusat riset teknologi global ke Asia. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya kolaborasi riset internasional dan adopsi AI dalam mempercepat inovasi material guna mendukung transisi energi dan keberlanjutan lingkungan.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
4 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit