Singapura kembali kedatangan pengusaha yang bertanggung jawab atas nasib ratusan pekerja migran yang terkatung-katung karena gaji yang tidak dibayarkan selama berbulan-bulan. Menteri Negara Ketenagakerjaan Singapura, Dinesh Vasu Dash, mengonfirmasi pada Minggu (28/6) bahwa Ramu Palani Velu, seorang penduduk tetap Singapura, telah kembali ke negara tersebut untuk menghadapi proses hukum. Saat ini, yang bersangkutan tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh pihak otoritas, dan paspornya telah disita untuk mencegah upaya melarikan diri.
Ramu Palani Velu diketahui memegang jabatan direktur di beberapa perusahaan, termasuk KPA Engineering dan SK Industries. Selain itu, namanya tercatat sebagai direktur di lima perusahaan lainnya, salah satunya adalah VVR Plant Engineering. Pekerja dari ketiga perusahaan tersebut dilaporkan mengalami nasib serupa, yakni tidak menerima upah selama berbulan-bulan, yang memicu krisis kesejahteraan bagi ratusan tenaga kerja asing di Singapura.
Dalam kunjungannya ke Kranji Recreation Centre untuk menemui para pekerja yang terdampak, Menteri Dinesh menegaskan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan (MOM) memandang serius setiap pelanggaran terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Ketenagakerjaan Tenaga Kerja Asing. Pemerintah berkomitmen untuk menindak tegas pihak-pihak yang lalai memenuhi kewajiban kontraktual terhadap karyawan mereka, memastikan keadilan bagi para pekerja migran yang menjadi tulang punggung sektor konstruksi dan industri.
Kasus ini mencuat setelah ratusan pekerja dari KPA Engineering dan SK Industries secara serentak mencari bantuan awal pekan ini. Gelombang protes dan permohonan bantuan memuncak ketika lebih dari 100 pekerja mendatangi pusat layanan MOM di Bendemeer untuk menuntut hak atas gaji mereka yang tertahan. Situasi ini menuntut respons cepat dari pemerintah dan organisasi pendukung untuk mencegah dampak sosial yang lebih luas.
Sebagai langkah darurat, National Trades Union Congress (NTUC) dan Migrant Workers' Centre (MWC) telah mengumumkan alokasi dana bantuan. Setiap pekerja akan menerima bantuan tunai sebesar S$200 serta voucher untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dengan syarat mereka merupakan anggota MWC atau bersedia mendaftar sebagai anggota. Langkah ini diambil untuk memastikan kebutuhan dasar para pekerja tetap terpenuhi selama proses investigasi berjalan.
Di sisi lain, upaya pemulihan ekonomi bagi para pekerja juga mulai dilakukan. Kepala Serikat Buruh, Ng Chee Meng, mengungkapkan bahwa sebanyak 80 perusahaan telah membuka lowongan untuk menampung sekitar 400 pekerja yang terdampak. Penempatan kerja baru ini dijadwalkan akan dimulai pada pekan depan. Selain itu, pemerintah juga mengoordinasikan pemindahan para pekerja ke satu fasilitas penginapan terpadu agar dukungan logistik dan emosional dapat diberikan dengan lebih efisien dan terarah.