Pelatih tim nasional Austria, Ralf Rangnick, menepis keras spekulasi mengenai adanya pengaturan skor atau kolusi dalam pertandingan sengit melawan Aljazair yang berakhir imbang 3-3. Pertandingan yang berlangsung di Kansas City tersebut berakhir dengan drama yang memastikan kedua tim lolos ke babak gugur Piala Dunia, memicu kecurigaan dari berbagai pihak mengenai hasil yang dianggap 'menguntungkan' kedua belah pihak.
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Rangnick menegaskan bahwa jalannya laga yang penuh kejutan adalah bukti nyata bahwa tidak ada kesepakatan di antara kedua tim. Menurutnya, tensi tinggi yang terjadi di menit-menit akhir pertandingan mustahil direncanakan atau diatur oleh pihak mana pun. Ia menekankan bahwa profesionalisme pemain tetap menjadi prioritas utama sepanjang 90 menit waktu normal.
Laga tersebut memang berlangsung sangat dramatis, terutama pada masa tambahan waktu. Kapten Aljazair, Riyad Mahrez, sempat membawa timnya unggul 3-2 pada menit ke-93, namun pemain pengganti Austria, Sasa Kalajdzic, berhasil menyamakan kedudukan tepat sebelum peluit panjang dibunyikan. Rangnick menggambarkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang sangat mustahiluar nalar bahkan bagi seorang pelatih dengan pengalaman 40 tahun.
Rangnick menyatakan ketidakpercayaannya terhadap teori konspirasi yang beredar. Ia menyoroti bahwa intensitas permainan dalam 15 menit terakhir menunjukkan keinginan kuat dari kedua tim untuk meraih kemenangan, bukan sekadar bermain aman untuk mengamankan satu poin. Baginya, mustahil, tuduhan kolusi adalah bentuk ketidakhormatan terhadap kerja keras para pemain di lapangan.
Keberhasilan Austria lolos ke babak 32 besar merupakan pencapaian bersejarah, mengingat ini adalah pertama kalinya bagi mereka dalam 44 tahun terakhir. Rangnick mengaku masih sulit memproses emosi yang dirasakan timnya. Ia merasa lega dan bangga bisa membawa Austria keluar dari grup yang sangat sulit, yang menurutnya menjadi bukti kualitas permainan timnya.
Menatap babak berikutnya, Austria dijadwalkan akan menghadapi juara Eropa, Spanyol, di California pada 2 Juli mendatang. Rangnick tetap optimistis dan menegaskan bahwa dalam turnamen sebesar Piala Dunia, segala kemungkinan bisa terjadi. Ia berharap momentum positif dari hasil imbang yang mendebarkan ini dapat menjadi pelecut semangat anak asuhnya untuk terus melangkah lebih jauh.