SEOUL – Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan, Huh Chang, mengungkapkan bahwa pemerintah Seoul saat ini tengah menjalin komunikasi intensif dengan Jepang serta sekutu utama lainnya terkait dinamika pasar valuta asing. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran mendalam pemerintah mengenai nilai tukar won yang dinilai telah mengalami penyimpangan signifikan dari fundamental ekonomi negara tersebut.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis lalu, Huh Chang menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pertukaran informasi secara proaktif dengan otoritas Jepang. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi kebijakan bersama dalam menjaga stabilitas pasar mata uang di kawasan, terutama menghadapi tekanan global yang terus membebani mata uang won terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi won saat ini memang menjadi sorotan, mengingat mata uang tersebut telah melemah hingga mendekati level terendah dalam 17 tahun terakhir. Penurunan nilai sebesar 7,4 persen sepanjang tahun ini menciptakan anomali ekonomi yang mencolok, mengingat indeks saham lokal KOSPI justru mencatatkan performa impresif dengan kenaikan sekitar 85 persen, yang menunjukkan adanya disparitas antara sektor keuangan dan sektor riil.
Pemerintah Korea Selatan menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah intervensi jika volatilitas pasar menjadi tidak terkendali. Huh Chang menyoroti pentingnya menjaga likuiditas pasar, terutama menjelang implementasi kebijakan bersejarah pada hari Senin mendatang, di mana Korea Selatan akan memulai siklus perdagangan dolar-won selama 24 jam penuh untuk meningkatkan aksesibilitas pasar.
Di sisi lain, Deputi Menteri Keuangan Moon Ji-sung menambahkan bahwa komunikasi dengan Tokyo dan Washington tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah berharap bahwa perluasan jam perdagangan domestik akan mampu menarik volume transaksi dari pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri ke pasar spot domestik, sebuah langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan moneter nasional.
Meskipun pemerintah enggan memberikan detail teknis mengenai strategi intervensi yang akan dijalankan, pasar tetap memantau ketat langkah Seoul. Dengan meniru pendekatan agresif Jepang yang berupaya menekan spekulan pasar, Korea Selatan berusaha memberikan sinyal kuat bahwa mereka tidak akan membiarkan mata uang won terus tertekan oleh aktivitas spekulatif yang tidak mencerminkan kekuatan ekonomi nasional yang sebenarnya.