Pemerintah Yaman secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer berskala besar guna mengambil alih seluruh wilayah yang saat ini dikuasai oleh kelompok milisi Houthi. Keputusan ini diambil di tengah eskalasi konflik yang semakin tajam, menyusul keberhasilan Houthi dalam memutus jalur pasokan logistik vital yang menghubungkan ibu kota sementara Aden dengan kota Taiz yang saat ini terkepung.
Rashad al-Alimi, kepala dewan presiden Yaman, menegaskan bahwa langkah ini merupakan upaya negara untuk memulihkan kedaulatan penuh atas seluruh teritorial republik. Seluruh pasukan angkatan bersenjata kini diperintahkan untuk menjalankan misi pembebasan sesuai dengan rencana strategis yang telah disusun, dengan target akhir melenyapkan cengkeraman milisi Houthi yang dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas nasional.
Ketegangan di lapangan memuncak pasca jatuhnya kawasan al-Safiya ke tangan Houthi. Kelompok tersebut berhasil menguasai pos polisi setempat dan memblokir akses jalan utama, yang secara praktis mengisolasi Taiz dari dukungan logistik dari arah Aden. Laporan dari sumber keamanan mengonfirmasi bahwa pertempuran sengit di wilayah tersebut telah merenggut setidaknya 70 nyawa dalam kurun waktu 24 jam terakhir, dengan korban jiwa yang tersebar di kedua belah pihak.
Latar belakang konflik ini berakar pada perang saudara yang telah berlangsung sejak 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa. Situasi semakin kompleks karena keterlibatan aktor regional, termasuk Arab Saudi yang memimpin koalisi militer pendukung pemerintah sah. Eskalasi terbaru ini dipicu oleh ambisi Houthi yang belakangan berhasil menduduki wilayah pesisir Laut Merah, sebuah titik krusial bagi jalur perdagangan maritim internasional.
Secara geopolitik, Houthi juga mulai berani menunjukkan taringnya dengan melancarkan serangan udara ke wilayah Arab Saudi. Pada hari Minggu, kelompok tersebut mengklaim telah menghantam infrastruktur energi milik raksasa minyak Aramco di Riyadh dan Khurais menggunakan kombinasi drone serta rudal balistik. Serangan ini menciptakan tekanan baru bagi pasar energi global yang sudah terdistrupsi oleh blokade Iran di Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang patut dicermati, terutama terkait stabilitas harga minyak dunia dan keamanan jalur logistik maritim. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, fluktuasi harga akibat terganggunya rantai pasok Aramco dapat berdampak langsung pada postur APBN Indonesia. Selain itu, posisi strategis Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah sebagai jalur utama perdagangan Indonesia ke Eropa membuat ketidakstabilan di kawasan ini menjadi ancaman nyata bagi biaya logistik nasional.
Analis dari Chatham House, Farea Al-Muslimi, menyatakan skeptisismenya terhadap efektivitas operasi militer pemerintah kali ini. Menurutnya, tujuan militer Houthi untuk memutus akses Taiz telah tercapai, dan posisi pemerintah yang terdesak membuat setiap kontra-serangan menjadi tantangan besar. Meskipun pemerintah berambisi besar, keterbatasan kemampuan udara mereka membuat mereka masih sangat bergantung pada dukungan jet tempur koalisi Arab Saudi.
Di sisi lain, perlawanan dari warga sipil di Taiz justru semakin mengeras. Penduduk setempat bersumpah untuk mempertahankan kota mereka dari penetrasi milisi, menegaskan bahwa setiap jengkal tanah tidak akan diserahkan begitu saja. Semangat perlawanan ini menjadi variabel yang sulit diprediksi dalam kalkulasi militer kedua belah pihak di medan perang yang semakin berdarah.
Langkah selanjutnya kini bergantung pada sejauh mana efektivitas serangan udara koalisi dalam melumpuhkan posisi Houthi di utara dan barat Yaman. Namun, sejarah konflik ini menunjukkan bahwa perang darat yang berkepanjangan hanya akan memperdalam krisis kemanusiaan yang sudah mencapai tahap kritis. Tanpa adanya solusi diplomatik yang melibatkan semua pihak, prospek perdamaian di Yaman tampak semakin jauh dari jangkauan.
Ke depan, dunia internasional diprediksi akan terus memantau pergerakan di Laut Merah dengan cemas. Jika Houthi mampu mempertahankan kontrol atas jalur pelayaran, tekanan terhadap harga komoditas global diperkirakan akan terus berlanjut. Bagi pemerintah Yaman, keberhasilan dalam operasi ini bukan sekadar tentang memenangkan pertempuran, melainkan tentang membuktikan bahwa negara masih memiliki otoritas untuk melindungi rakyatnya dari ancaman milisi yang terus berekspansi.