Pemerintah Kota Solok di Sumatera Barat mengambil langkah konkret dalam memerangi penyalahgunaan narkotika dengan mengintegrasikan materi anti-narkoba ke dalam kurikulum resmi satuan pendidikan. Kolaborasi antara Pemerintah Kota Solok dan Badan Narkotika Nasional (BNN) ini menyasar jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah pertama.
Peluncuran program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) digelar pada Rabu di Kota Solok. Kegiatan tersebut menggandeng Dinas Pendidikan setempat serta Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Sumatera Barat. Tujuannya adalah memastikan peserta didik mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai bahaya narkoba sejak usia dini melalui pembelajaran yang menyatu dengan mata pelajaran harian.
Maraknya peredaran narkotika yang kini menyasar berbagai kalangan, termasuk remaja dan pelajar, mendorong pemerintah daerah untuk tidak lagi sekadar mengandalkan sosialisasi insidental. Penyalahgunaan zat adiktif di kalangan usia sekolah menjadi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia masa depan. Integrasi kurikulum menjadi strategi mitigasi yang dianggap lebih sistemik dibandingkan kampanye sesekali yang kerap dilupakan setelah acara selesai.
Wali Kota Solok Ramadhani Kirana Putra menekankan bahwa pendekatan struktural melalui sekolah merupakan benteng pertahanan pertama yang krusial. Selama ini, keluarga dan lingkungan pendidikan kerap berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi ancaman narkoba. Dengan mengikatkan materi pencegahan ke dalam silabus, pemkot berupaya menciptakan ekosistem pendidikan yang secara otomatis memfilter paparan bahaya narkotika.
Kebijakan ini juga dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan rehabilitasi yang lebih terjangkau di tingkat lokal. Pemerintah Kota Solok berencana mengaktifkan kembali rumah rehabilitasi pecandu di Puskesmas Nan Balimo. Fasilitas tersebut akan menjadi tempat pemulihan bagi warga yang terlanjur terjerat narkoba, termasuk pelajar, tanpa harus mengandalkan pusat rehabilitasi jangka panjang di luar kota.
Di sisi lain, bagi dunia pendidikan di Indonesia, langkah Solok menawarkan model pencegahan berbasis kurikulum yang bisa ditiru daerah lain. Banyak sekolah di tanah air masih menganggap pencegahan narkoba sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau seminar sesekali. Padahal, masuknya materi bahaya narkoba ke dalam mata pelajaran inti akan memperkuat ketahanan diri siswa secara berkesinambungan.
Dampak langsung dari program ini dirasakan oleh ribuan pelajar di Kota Solok, mulai dari jenjang TK, SD, hingga SMP. Para kepala sekolah dan guru mendapat tanggung jawab baru untuk menanamkan nilai-nilai anti-narkoba di setiap kesempatan belajar. Orang tua juga dilibatkan secara psikologis sebagai pengawas di rumah, sejalan dengan pesan wali kota yang menitipkan anak-anak kepada keluarga masing-masing.
Di tingkat nasional, tren integrasi kurikulum pencegahan narkoba sejalan dengan arahan Badan Narkotika Nasional yang terus mendorong desentralisasi penanggulangan narkotika. Daerah dengan prevalensi penyalahgunaan tinggi wajib memiliki strategi lokal yang terukur. Solok memilih jalur pendidikan formal karena sekolah memiliki infrastruktur terjadwal dan menjangkau hampir seluruh anak usia wajib belajar.
Ramadhani Kirana Putra menyampaikan pesan tegas kepada seluruh siswa dalam peluncuran tersebut. "Kami juga menitipkan anak-anak di Kota Solok kepada orang tua untuk memastikan anak bersih dari narkoba," ujar dia. Ia menambahkan, jika ingin sukses, pelajar harus menjauhi narkoba sama sekali.
Kepala BNNK Solok M Febrian Jufril menegaskan komitmen instansinya untuk bersama-sama menjaga generasi penerus bangsa. Menurutnya, penyisipan modul bahaya narkoba ke dalam mata pelajaran harian merupakan instrumen perlindungan yang efektif. "Salah satunya melalui integrasi mata pelajaran dengan materi atau modul bahaya narkoba di satuan pendidikan," ucap Febrian.
Ke depan, Pemkot Solok dan BNNK akan memantau implementasi IKAN di lapangan melalui evaluasi berkala bersama Dinas Pendidikan. Pelatihan guru menjadi kunci agar penyampaian materi tidak mengganggu target kurikulum nasional namun tetap berdampak nyata. Talkshow "Ananda Bersinar" yang digelar saat MPLS juga direncanakan menjadi agenda tahunan sebagai penguatan karakter siswa baru.
Tren pencegahan narkoba berbasis sekolah diprediksi akan meluas ke kabupaten dan kota lain di Sumatera Barat. Kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah daerah, BNN, dan tenaga pendidik membuktikan bahwa perang terhadap narkotika tidak bisa hanya mengandalkan penindakan hukum. Pembentukan karakter sejak usia dini melalui kurikulum resmi menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.