Pengadilan di Tirana, Albania, akhirnya membebaskan 19 pengunjuk rasa yang sebelumnya ditahan akibat aksi protes ricuh menentang pembangunan proyek resor mewah yang dikaitkan dengan keluarga menantu mantan Presiden Amerika Serikat, Jared Kushner. Pembebasan ini disambut sorak-sorai oleh para pendukung yang memadati area luar gedung pengadilan dengan seruan "Bebaskan mereka".
Menurut pengacara Dorian Matlija, dari 19 orang yang dibebaskan, dua di antaranya kini dikenakan status tahanan rumah, sementara 12 orang lainnya diwajibkan melapor secara rutin ke kepolisian yudisial. Sebanyak lima orang sisanya dibebaskan tanpa tuntutan hukum lebih lanjut. Mereka sempat ditahan atas tuduhan tidak mematuhi perintah polisi, mengorganisir demonstrasi ilegal, dan mengganggu ketertiban umum.
Gelombang protes yang melanda Albania sejak Mei lalu dipicu oleh rencana pembangunan resor mewah di kawasan lindung pesisir. Proyek yang melibatkan investasi dari pihak yang terafiliasi dengan Jared Kushner ini memicu kemarahan publik karena dianggap mengancam kelestarian lingkungan dan transparansi tata kelola lahan di Albania.
Namun, aksi demonstrasi yang awalnya hanya menyoroti masalah lingkungan kini telah berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah dan anti-korupsi yang lebih luas. Massa pengunjuk rasa secara konsisten meneriakkan tuntutan agar Perdana Menteri Edi Rama segera mengundurkan diri, mencerminkan ketidakpuasan mendalam terhadap administrasi saat ini.
Ketegangan memuncak pada Kamis lalu saat ratusan demonstran mencoba memblokir akses ke gedung parlemen. Pihak kepolisian merespons dengan menggunakan gas air mata, semprotan merica, dan meriam air untuk membubarkan massa. Insiden tersebut mengakibatkan 15 petugas kepolisian terluka dan 25 demonstran ditahan, sebuah eskalasi yang kontras dengan aksi damai yang sebelumnya rutin dilakukan setiap malam.
Krisis ini mencapai puncaknya pada Sabtu malam ketika puluhan ribu warga kembali turun ke jalan di Tirana. Aksi ini tercatat sebagai demonstrasi terbesar sejak gerakan dimulai. Munculnya alat berat dan pagar kawat berduri di area pantai pada akhir Mei lalu menjadi titik balik yang memicu kemarahan publik, mempertegas mosi tidak percaya rakyat terhadap kebijakan pemerintah dalam memberikan izin investasi asing di kawasan sensitif.