Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) resmi mengarahkan bidikan kepada Pitso Mosimane untuk kembali menduduki kursi pelatih kepala tim nasional. Langkah strategis ini diambil menyusul pengunduran diri Hugo Broos, sosok veteran yang memutuskan untuk berpisah dengan Bafana Bafana pasca-Piala Dunia tahun ini. Presiden SAFA, Danny Jordaan, mengonfirmasi bahwa negosiasi saat ini berada dalam tahap akhir penyelesaian detail kontrak sebelum pengumuman resmi dilakukan pekan depan.
Bagi publik sepak bola Afrika Selatan, kembalinya Mosimane merupakan momen nostalgia sekaligus harapan baru. Pria berusia 62 tahun ini bukanlah sosok asing di Johannesburg. Ia pernah menangani tim nasional tepat setelah Piala Dunia 2010, menggantikan mentornya, Carlos Alberto Parreira. Namun, periode pertamanya berakhir kurang memuaskan pada pertengahan 2012 setelah tim gagal menunjukkan performa impresif di awal kualifikasi Piala Dunia 2014.
Kegagalan di masa lalu sering dikaitkan dengan insiden taktis yang cukup ironis saat kualifikasi Piala Afrika 2012. Mosimane keliru membaca regulasi turnamen, di mana ia menerapkan pola pertahanan rapat saat melawan Sierra Leone karena mengira hasil imbang sudah cukup untuk meloloskan tim. Padahal, Afrika Selatan membutuhkan kemenangan. Momen di mana para pemain merayakan hasil imbang tersebut di lapangan, sebelum akhirnya tersadar akan kesalahan aturan, menjadi catatan kelam dalam karier kepelatihannya.
Namun, narasi karier Mosimane berubah drastis setelah insiden tersebut. Ia membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih kelas wahid di benua Afrika dengan membawa Mamelodi Sundowns menjuarai Liga Champions Afrika pada 2016. Kesuksesan ini membawanya ke raksasa Mesir, Al Ahly, pada 2020. Di sana, ia mencatatkan rekor fenomenal dengan membawa klub tersebut ke tiga final Liga Champions Afrika secara berturut-turut, memenangkan trofi pada 2020 dan 2021.
Pengalaman internasional Mosimane juga meluas ke luar benua hitam. Ia telah mencicipi atmosfer kepelatihan di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Iran. Rekam jejak yang kaya ini menjadi modal utama SAFA untuk memberinya kesempatan kedua. Tantangan terdekat bagi Mosimane adalah kualifikasi Piala Afrika bulan depan, di mana Afrika Selatan dijadwalkan menghadapi Guinea dan Eritrea sebagai langkah awal menuju turnamen di Kenya, Tanzania, dan Uganda.
Di Indonesia, pola perekrutan pelatih dengan rekam jejak domestik yang kuat seperti Mosimane sering menjadi perdebatan hangat. Melihat bagaimana Afrika Selatan memercayakan kembali kursi panas kepada mantan pelatihnya, ada pelajaran berharga tentang pentingnya memberikan waktu bagi pelatih untuk matang di luar negeri sebelum kembali membangun fondasi tim nasional. Perbandingan ini relevan dengan dinamika timnas Indonesia yang terus mencari stabilitas di level Asia.
Ketergantungan pada pelatih yang memahami kultur sepak bola lokal sekaligus memiliki pengalaman taktis global adalah formula yang kini sedang dicoba oleh banyak negara berkembang. Mosimane membawa perpaduan antara disiplin taktik ala Timur Tengah dan agresivitas sepak bola Afrika. Bagi penggemar sepak bola di tanah air, profil pelatih seperti ini adalah cerminan dari kebutuhan akan pemimpin teknis yang tidak hanya paham strategi, tetapi juga mampu mengelola psikologi pemain di situasi krusial.
Dampak dari penunjukan ini tentu sangat besar bagi iklim kompetisi di Afrika Selatan. Dengan nama besar yang ia bawa dari Al Ahly, Mosimane diharapkan bisa mendongkrak standar profesionalisme di tim nasional. Ia bukan lagi pelatih yang salah membaca regulasi seperti tahun 2012, melainkan sosok yang sudah teruji di panggung tertinggi kompetisi antarklub.
Kutipan dari pernyataan resmi SAFA menekankan bahwa meskipun ada beberapa poin yang masih perlu diselesaikan, kesepakatan prinsipil telah tercapai. Jordaan meyakini bahwa Mosimane adalah profil yang paling tepat untuk menggantikan Broos, yang membawa Afrika Selatan hingga babak 32 besar sebelum dikalahkan oleh Kanada di Piala Dunia lalu. Ekspektasi publik kini tertuju pada pengumuman resmi pekan depan.
Secara teknis, penunjukan ini juga menandai era baru bagi Bafana Bafana. Dengan kualifikasi yang sudah di depan mata, Mosimane tidak memiliki waktu luang untuk beradaptasi. Ia harus segera menyatukan kembali kepingan tim yang ditinggalkan Broos. Keberhasilan atau kegagalan dalam dua laga awal kualifikasi nanti akan menjadi tolok ukur awal efektivitas metode kepelatihannya di periode kedua ini.
Tren kepelatihan modern yang menuntut efisiensi tinggi membuat keputusan SAFA ini terlihat sangat pragmatis. Mereka tidak mencari eksperimen baru, melainkan kembali kepada sosok yang sudah mengenal struktur sepak bola nasional namun telah memperkaya dirinya dengan pengalaman internasional yang mumpuni. Ini adalah langkah konservatif namun terukur untuk mengamankan tiket ke Piala Afrika mendatang.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana Mosimane meramu strategi menghadapi Guinea dan Eritrea. Jika ia mampu membawa Afrika Selatan lolos ke putaran final di Kenya, Tanzania, dan Uganda, maka keputusannya untuk kembali akan dianggap sebagai langkah jenius. Sebaliknya, tekanan publik akan sangat besar mengingat sejarah masa lalunya yang sempat ternoda oleh kesalahan administratif yang fatal.