Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Selatan menyambangi 38 sekolah untuk mengenalkan keterampilan pertolongan pertama kepada pelajar selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 15–17 Juli 2026. Kegiatan ini dirancang agar peserta didik memahami pentingnya kesiapsiagaan sejak dini, sekaligus menumbuhkan minat mereka terhadap kegiatan kemanusiaan di lingkungan pendidikan.
Ketua PMI Kota Jakarta Selatan, Mundari, menyatakan bahwa mayoritas sekolah meminta demonstrasi ambulans sebagai bagian dari ekstrakurikuler pada masa pengenalan tersebut. Permintaan itu kemudian direspons dengan menghadirkan atraksi ambulans serta sosialisasi langsung mengenai cara memberikan pertolongan pertama yang benar kepada korban kecelakaan atau kondisi darurat di sekolah.
MPLS merupakan momentum tahunan di mana siswa baru beradaptasi dengan lingkungan belajarnya. Di Jakarta Selatan, rentang waktu tiga hari tersebut dimanfaatkan PMI untuk menyisipkan materi kebencanaan dan kesehatan dasar. Langkah ini muncul dari keprihatinan atas rendahnya literasi pertolongan pertama di kalangan pelajar, padahal risiko kecelakaan ringan hingga serius kerap terjadi di area sekolah.
Budaya kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan sebetulnya telah lama digaungkan melalui program Palang Merah Remaja (PMR). Namun, implementasinya belum merata di seluruh wilayah. Dengan menyasar 38 sekolah secara langsung, PMI Jaksel berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dan menjadikan pertolongan pertama sebagai bagian dari karakter siswa, bukan sekadar kegiatan insidental.
Keterlibatan PMI dalam MPLS juga menjadi bentuk sinergi antara instansi kesehatan sukarela dan dunia pendidikan. Sekolah tidak lagi hanya fokus pada akademik, tetapi mulai memasukkan aspek ketahanan diri siswa. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan penguatan profil pelajar Pancasila yang menekankan dimensi kesehatan dan kepedulian sosial.
Dampak dari edukasi semacam ini tidak terbatas pada pengetahuan teknis. Siswa yang paham pertolongan pertama cenderung lebih tenang menghadapi situasi kritis dan mampu membantu teman sebayanya sebelum tenaga medis tiba. Di tingkat yang lebih luas, masyarakat Indonesia membutuhkan generasi yang melek tanggap darurat, mengingat tingginya angka kecelakaan lalu lintas dan bencana di tanah air.
Perbandingan dengan daerah lain menunjukkan bahwa pendekatan serupa mulai bermunculan, namun sering kali terbentur keterbatasan relawan dan anggaran. Jakarta Selatan memiliki keuntungan dari ketersediaan unit ambulans dan jaringan PMI yang aktif. Oleh karena itu, model ini berpotensi diadopsi oleh pemerintah kota lain sebagai standar pengenalan sekolah yang inklusif dan berbasis kesiapsiagaan.
Bagi orang tua dan guru, kegiatan ini memberi jaminan tambahan bahwa anak didik tidak hanya diawasi, tetapi juga dibekali kemampuan menyelamatkan diri. Mundari menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran mengenai budaya hidup sehat, menjaga keselamatan, serta menjunjung nilai kemanusiaan sejak siswa menginjakkan kaki di sekolah.
“Melalui kegiatan PMI dalam MPLS ini, diharapkan mereka semakin bersemangat untuk sekolah dan memiliki pengetahuan pertolongan pertama sejak dini,” ujar Mundari. Ia menambahkan, sosialisasi tersebut juga menjadi ajang memperkenalkan PMR kepada pelajar agar mereka tertarik bergabung dan melatih kepedulian terhadap sesama.
PMI Jaksel melihat animo siswa terhadap atraksi ambulans sebagai pintu masuk yang efektif. Rencananya, edukasi serupa akan diperluas tidak hanya saat MPLS, tetapi juga melalui kegiatan berkala di masing-masing sekolah. Hal ini untuk memastikan materi pertolongan pertama tidak hilang ditelan waktu setelah masa pengenalan berakhir.
Ke depan, kolaborasi antara PMI, dinas pendidikan, dan satuan pelajar dapat menjadi fondasi sistem tanggap darurat berbasis sekolah. Jika tren ini berlanjut, Indonesia bisa menekan risiko kematian akibat keterlambatan penanganan awal di lingkungan pendidikan. Kesiapsiagaan sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan kesehatan nasional.