Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengkaji secara mendalam tingkat kecukupan alokasi dana program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anggaran yang saat ini dipatok sebesar Rp15.000 per penerima manfaat menjadi fokus utama peninjauan kembali.
Instruksi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Negara kepada jajaran BGN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan benar-benar mampu menyediakan asupan gizi yang memadai bagi pelajar di seluruh tanah air.
Program MBG merupakan janji kampanye utama Prabowo yang kini memasuki tahap implementasi nasional. Sejak diluncurkan, skema pembiayaan program ini terus menuai sorotan dari berbagai pihak. Efisiensi anggaran dan ketepatan sasaran menjadi dua isu yang paling kerap mengemuka di tengah masyarakat.
Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan rincian anggaran per porsi MBG berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga kelas 3 Sekolah Dasar (SD), biaya bahan baku ditetapkan sebesar Rp8.000. Sementara untuk siswa kelas 4 SD hingga Satuan Pendidikan Menengah Atas (SLTA), biaya bahan baku mencapai Rp10.000.
Angka tersebut belum termasuk komponen biaya operasional yang dipatok Rp3.000 serta anggaran fasilitas sebesar Rp2.000 per porsi. Dengan demikian, total anggaran yang terserap untuk siswa PAUD hingga kelas 3 SD adalah Rp13.000. Sedangkan untuk siswa kelas 4 SD hingga SLTA menyentuh angka Rp15.000. Konstruksi harga inilah yang kini diminta untuk dikaji ulang oleh Presiden.
Peninjauan anggaran ini membawa implikasi besar terhadap keberlanjutan fiskal program MBG yang digadang-gadang bakal menyentuh puluhan juta anak Indonesia. Jika hasil kajian menunjukkan angka Rp15.000 belum cukup, pemerintah terpaksa harus membuka keran anggaran lebih besar. Hal ini tentu menjadi tantangan di tengah tekanan defisit APBN yang harus dijaga ketat.
Di sisi lain, apabila evaluasi memutuskan ada ruang efisiensi, langkah tersebut dapat meredam spekulasi publik mengenai adanya pemborosan dalam eksekusi program strategis ini. Masyarakat luas, khususnya orang tua murid dan tenaga kependidikan, akan merasakan dampak langsung dari penyesuaian nilai ini. Kestabilan pasokan pangan di dapur umum juga bergantung pada kepastian angka ini.
Isu mengenai potensi pengurangan anggaran MBG pasca-evaluasi masa libur sekolah sempat mengemuka di ruang publik. Kabar tersebut langsung dibantah oleh pihak BGN yang menegaskan bahwa besaran anggaran masih dalam tahap penghitungan yang cermat. Belum ada keputusan final yang diambil terkait pemotongan atau pun penambahan nilai per porsi.
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa arahan Presiden sangat jelas agar seluruh opsi kebijakan dihitung dan dikaji secara menyeluruh sebelum diputuskan. "Beliau mengatakan apakah anggaran Rp15 ribu itu sudah cukup? Silakan kaji. Jika memang tidak cukup, berapa angkanya," ujar Agustina usai menemui Presiden di Istana, Rabu.
Agustina menilai arahan tersebut merupakan pedoman berharga bagi institusinya dalam menyempurnakan pelaksanaan program MBG di lapangan. Terkait rumor pemangkasan anggaran, ia menegaskan bahwa proses penghitungan masih berjalan. "Itu kan nanti dulu, kan masih dihitung dulu berarti," katanya singkat. Ia juga menepis isu pengurangan pasca-libur sekolah dengan balik bertanya, "Yang bilang siapa, tanya sama yang bikin berita."
Ke depan, BGN dipastikan akan bekerja di bawah tekanan waktu untuk merampungkan perhitungan ulang tersebut. Penetapan angka final sangat krusial mengingat program MBG ditargetkan berjalan tanpa hambatan distribusi dan mutu gizi ketika sekolah kembali aktif. Koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan pihak swasta penyuplai bahan baku akan semakin intensif.
Pemerintah juga dituntut untuk transparan dalam mempublikasikan hasil kajian tersebut. Tanpa transparansi, kepercayaan publik terhadap salah satu program unggulan administrasi Prabowo-Gibran berisiko tergerus. Dinamika harga pangan yang fluktuatif di pasaran domestik menuntut formula anggaran yang adaptif agar program ini tidak mandek di tengah jalan.