Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, Luyuan, secara resmi menyampaikan permintaan maaf atas serangkaian kampanye iklan yang memicu kecaman luas di media sosial. Iklan tersebut dianggap tidak pantas karena menampilkan konten yang bersifat sugestif secara seksual, yang dinilai tidak relevan dengan pemasaran produk skuter listrik maupun sepeda listrik perusahaan tersebut.
Perusahaan yang memiliki jaringan lebih dari 14.000 gerai di 80 negara ini menuai kritik tajam setelah merilis video promosi berdurasi 30 detik. Dalam video tersebut, terlihat seorang wanita berbaring di atas skuter dengan posisi yang sengaja menonjolkan bagian tubuh tertentu. Selain itu, terdapat iklan lain yang memperlihatkan model wanita berdiri di atas jok skuter dengan posisi kaki yang mengekspos pakaian dalam, yang dianggap sangat vulgar oleh netizen.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Luyuan segera menarik seluruh materi iklan dari berbagai platform digital pada Kamis (2/7). Pihak manajemen menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas insiden ini dan menegaskan tidak akan memberikan alasan pembenaran atas kesalahan fatal dalam strategi pemasaran tersebut. Luyuan juga telah mengambil tindakan disipliner terhadap staf yang bertanggung jawab atas kampanye tersebut.
Selain memberikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik dan para pengguna setianya, Luyuan berjanji akan melakukan tinjauan konten secara menyeluruh di seluruh platform perusahaan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di masa depan dan guna menjaga standar etika komunikasi pemasaran yang lebih profesional.
Kontroversi ini menambah daftar panjang kegagalan kampanye iklan perusahaan besar belakangan ini. Sebelumnya, merek kebersihan Dettol juga sempat menuai kritik keras karena iklan yang dianggap melanggengkan seksisme, sementara layanan penjara Hong Kong harus menarik iklan berbasis kecerdasan buatan karena pesan anti-narkoba yang disampaikan justru dianggap mempromosikan penggunaan zat terlarang.
Para pengguna media sosial di Tiongkok, seperti melalui platform Xiaohongshu dan Weibo, menyayangkan langkah Luyuan yang dianggap menggunakan strategi 'murahan' untuk menarik perhatian. Banyak warganet mempertanyakan relevansi konten tersebut terhadap fitur atau performa kendaraan, dan menganggap bahwa pendekatan tersebut justru merusak citra merek daripada membantu penjualan produk.