Ledakan keras memecah keheningan pagi di wilayah Beer Basha, Kota Taiz, Yaman, minggu lalu. Kebakaran besar melahap rumah Najib Abdullah, menewaskan ibu dan dua anaknya, sementara ayahnya perjuang di unit perawatan intensif. Penyebabnya: baterai lithium dari sistem tenaga surya yang dipasang di rumah. Insiden ini bukan kasus terisolasi. Menurut Dr. Mohammed Saeed, Kepala Unit Luka Bakar RS Al-Thawra — rujukan utama luka bakar di Taiz — unitnya rutin menangani korban ledakan baterai solar, kebocoran gas rumah tangga, serta kecelakaan kendaraan yang dikonversi ke gas elpiji. Dalam enam bulan pertama 2026 saja, unit itu mencatat 2.729 kasus luka bakar dengan 13 kematian, mayoritas disebabkan alternatif energi yang dipasang tanpa standar keselamatan.
Krisis energi di Yaman telah berlangsung hampir sepuluh tahun seiring konflik bersenjata yang menghancurkan jaringan listrik nasional. Di provinsi seperti Taiz, warga tidak memiliki akses ke jaringan PLN dan terpaksa memilih dua pilihan mahal: generator diesel atau sistem tenaga surya. Harga solar turun signifikan belakangan ini, membuatnya menarik bagi keluarga berpenghasilan rendah. Namun, banyak pemilik rumah memasang sistem sendiri untuk menghemat biaya tenaga ahli, mengabaikan protokel keselamatan seperti ventilasi ruang baterai, pemasangan di area terpisah dari ruang tinggal, dan penggunaan komponen berkualitas tinggi. Insinyur listrik Dawood Abdullah menegaskan: "Tenaga surya an sich aman, tetapi kesalahan pemasangan oleh orang awam — seperti meletakkan baterai di ruang tamu tanpa ventilasi — yang memicu kebakaran."
Di sisi transportasi, kesenjangan harga bahan bakar menciptakan bom waktu di jalan raya. Liter bensin dijual 1.500 Riyal Yaman (sekitar $0,95), sedangkan gas elpiji (LPG) hanya 500 Riyal ($0,30). Perbedaan 300% ini mendorong pengemudi bus dan taksi mengonversi mesin bensin ke gas elpiji secara liar. Ammar Saleh, 40 tahun, korban kebakaran mobil di ruangan sebelah Najib, mengaku mengikuti tren ini karena tak mampu membeli bensin. Mobilnya terbakar saat penumpang menyalakan korek api saat dia mengisi tabung gas di stasiun yang tidak dilengkapi standar pengisian gas kendaraan. Saudaranya, Mohammed, mengakui: "Saya kira tidak terlalu berbahaya; saya rasa ini lebih soal takdir." Sikap fatalistik ini memperparah risiko.
Polisi Taiz mencatat 30-40% kebakaran rumah disebabkan baterai solar, sementara kebakaran kendaraan konversi gas melonjak drastis. Malik Al-Sabri, Manajer Perencanaan dan Informasi Kepolisian Taiz, mengungkapkan kekhawatiran atas pasar gelap bengkel yang menyembunyikan konversi mesin di bawah tangan. Meskipun Satuan Pemadam Kebakaran (Civil Defence) telah melarang konversi tidak sah dan menetapkan syarat ketat, pelaksanaan di lapangan sulit mengingat kebutuhan mendesak warga dan minimnya pengawasan teknis. Bengkel liar menawarkan harga murah tanpa sertifikasi, mengorbankan keselamatan demi keuntungan cepat.
Konteks yang sering terlewat: baterai lithium-ion yang digunakan sistem solar skala rumah tangga di Yaman banyak yang bekas (second-life) atau rekanan (refurbished) dari armada bus listrik atau penyimpanan skala utilitas di Timur Tengah dan Eropa. Tanpa manajemen termal (BMS) yang berfungsi dan tanpa ruang penyimpanan terpisah berstandar kebakaran, sel-sel ini rentan *thermal runaway* — reaksi berantai panas yang sulit dipadamkan air biasa. Standar internasional seperti IEC 62619 atau UL 9540A jarang diterapkan. Sementara itu, konversi mesin bensin ke CNG/LPG memerlukan *timing* pengapian, katup bahan bakar, dan tabung tekanan tinggi bersertifikat (misal ECE R110), yang tidak dimiliki bengkel liar.
Krisis ini mencerminkan kegagalan tata kelola infrastruktur pasca-konflik. Negara gagal menyediakan layanan dasar, memaksa warga jadi "insinyur terpaksa" yang berjudi nyawa. Organisasi humaniter seperti UNDP dan ICRC telah mendistribusikan *solar home system* bersertifikat ke desa terpencil, namun cakupannya terbatas. Di sisi lain, subsidi bahan bakar yang dicabut pemerintah Houthi dan Pemerintah Internasional Diakui (IRG) demi keseimbangan anggaran justru memperparah tekanan daya beli. Tanpa kebijakan transisi energi yang adil — misalnya skema cicilan solar bersubsidi atau standar konversi kendaraan bermotor — siklus kecelakaan akan berulang.
Bagi Indonesia, kasus Yaman menawarkan pelajaran keras soal transisi energi yang tidak adil (*unjust transition*). Sebagai negara dengan jutaan rumah tangga yang mulai adopsi solar rooftop dan konversi motor ke listrik (EV conversion), Indonesia harus memastikan standar SNI/IEC diterapkan ketat, sertifikasi teknisi (BNSP) wajib, dan subsidi atau skema KUR untuk komponen berkualitas. Jika tidak, risiko kebakaran baterai di kawasan padat — seperti yang sempat terjadi di beberapa *boarding house* dan rumah warga di Jabodetabek — bisa merebak. Regulasi Menteri ESDM Nomor 11/2024 soal solar rooftop sudah mengatur *net metering*, tapi enforemen teknis di tingkat RT/RW masih lemah.
Di tengah keputusasaan, warga Yaman terus berjuang hidup. Najib Abdullah kehilangan istri dan dua anak; Ammar Saleh berjuang pulih dari luka bakar parah. Keduanya korban sistem yang memaksa rakyat miskin memilih antara gelap total atau risiko terbakar hidup-hidup. Komunitas internasional dan pemerintah Yaman — baik Houthi maupun IRG — harus memprioritaskan standar keselamatan energi sebagai bagian dari respons humaniter, bukan sekadar distribusi *hardware*. Tanpa itu, setiap panel solar dan tabung gas jadi potensial makam, bukan harapan.