Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah Badan Geologi secara resmi mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh oleh informasi menyesatkan yang beredar luas di media sosial terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Peringatan ini disampaikan menyusul viralnya sebuah video yang menampilkan erupsi besar gunung api tersebut pada malam hari. Pihak otoritas menegaskan bahwa rekaman yang memperlihatkan ledakan api vertikal tersebut adalah informasi palsu atau hoaks.
Berdasarkan data pemantauan resmi, Gunung Anak Krakatau memang mencatatkan aktivitas erupsi pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 14.05 WIB dan Jumat, 3 Juli 2026, pukul 11.50 WIB. Namun, video yang beredar di media sosial tersebut dipastikan bukan merupakan dokumentasi dari peristiwa terkini. PVMBG menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk hanya merujuk pada kanal komunikasi resmi milik Badan Geologi atau aplikasi MAGMA Indonesia guna mendapatkan informasi yang akurat.
Pelaksana tugas Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resminya pada Sabtu, 4 Juli 2026, menegaskan bahwa seluruh data aktivitas vulkanik dikelola secara ketat dan transparan. Ia juga meluruskan isu keliru mengenai radius bahaya yang beredar di masyarakat. Saat ini, rekomendasi resmi yang berlaku adalah larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi, bukan lima kilometer sebagaimana yang sempat tersebar.
Sejarah panjang aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk erupsi dahsyat tahun 1883 dan peristiwa tsunami tahun 2018, memang membuat masyarakat memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi. Sejak fase pertumbuhan kembali tubuh gunung pasca-2018, aktivitas magmatik berenergi rendah memang terus berlangsung. Meski demikian, saat ini gunung tersebut berada dalam status Level III atau Siaga, yang artinya pengawasan dilakukan secara intensif oleh petugas di lapangan.
Dalam arahan teknisnya, Lana meminta warga di sekitar wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung untuk tetap tenang. Masyarakat diimbau untuk tidak termakan isu-isu spekulatif mengenai potensi tsunami yang tidak berdasar. Aktivitas sehari-hari dapat terus berjalan seperti biasa selama masyarakat senantiasa mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi ancaman seperti awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Pemahaman terhadap sumber informasi yang kredibel menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi kebencanaan. Dengan memfilter informasi dari sumber resmi, masyarakat dapat membantu mengurangi kepanikan massal yang dipicu oleh penyebaran konten hoaks di ruang digital.