Internasional

Rapper Maroko Mehdi El Youbi Ditangkap di Casablanca Usai Dilarang Pulang Prancis

Ringkasan

  • Rapper Maroko Mehdi El Youbi ditangkap polisi Casablanca usai dilarang kembali ke Prancis, menandakan penindasan suara kritis di negara tersebut.

Rapper dan filmmaker Maroko Mehdi El Youbi, yang dikenal dengan nama panggung Mehdi Black Wind, diamankan oleh Brigad Nasional Polisi Kejaksaan di Casablanca pada Senin malam setelah seharian menjalani pemeriksaan. Keluarganya diberitahu sekitar pukul 21.00 bahwa ia telah masuk tahap penahanan dan dijadwalkan menghadap jaksa umum pada Rabu mendatang.

El Youbi lahir pada 1992 dan mulai dikenal luas pada awal 2010-an, beriringan dengan gelombang Arab Spring. Lirik-liriknya yang kental nuansa politik dan terinspirasi hip-hop AS membuatnya menjadi suara kritis bagi banyak pemuda di Afrika Utara.

Dalam wawancara dengan majalah musik Prancis Mosaique Magazine pada Desember 2025, ia mengakui ketakutan akan ditangkap atau dilarang masuk negeri kelahiran sendiri. Ia menegaskan bahwa seni yang berkomitmen selalu bergerak di antara keberanian dan rasa takut.

Jurnalis Aljazair Maher Mezahi menilai El Youbi sebagai rapper terbaik di Afrika Utara tanpa saingan. Penilaian itu memperkuat posisi ia sebagai ikon budaya yang melampaui batas negara.

Omar Radi, jurnalis investigatif Maroko yang pernah dipenjara karena mengkritik hakim, menyebut penangkapan ini bagian dari upaya sistematis untuk membungkam kritik terhadap pemerintah dan metode kepolisian, baik dari kalangan sipil, pers, seni, maupun suporter sepak bola.

Kasus ini mengikuti penangkapan jurnalis Ali Lmrabet sehari sebelumnya, yang dikritik Committee to Protect Journalists, serta vonis enam bulan penjara bersyarat bagi Zineb Kharroubi, tokoh gerakan Gen Z 212, atas tuduhan provokasi lewat media elektronik.

Pendukung El Youbi menilai rangkaian kejadian tersebut mencerminkan eskalasi represi yang dikaitkan dengan gerakan muda Gen Z 212 yang menuntut perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan sejak tahun lalu.

Kehadiran pengacara menjadi permasalahan tersendiri karena advokat di Maroko sedang mogok, sehingga risiko El Youbi menghadap jaksa tanpa pendamping hukum semakin nyata.

Bagi publik Indonesia, kasus ini mengingatkan akan kerentanan kebebasan berekspresi bagi seniman dan aktivis muda. Beberapa kasus terakhir di dalam negeri, seperti penuntutan rapper atas lirik yang dianggap menyinggung, menunjukkan pola serupa di mana hukum digunakan untuk membatasi suara kritis.

Namun, ekosistem hip-hop Indonesia yang relatif terbuka dan didukung komunitas digital besar memberikan ruang manuver yang lebih luas dibandingkan konteks Maroko saat ini. Perbandingan ini menegaskan perlunya kerangka hukum yang melindungi kreativitas tanpa mengorbankan keamanan negara.

Langkah selanjutnya akan ditentukan pada sidang Rabu, di mana keputusan jaksa umum bisa memicu tekanan internasional dari organisasi hak asasi manusia dan komunitas musik global.

Secara luas, penangkapan El Youbi menjadi indikator bagaimana rezim otoriter di kawasan MENA menanggapi gelombang protes generasi muda, dan mengapa solidaritas lintas batas tetap krusial untuk menjaga ruang demokrasi.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti bagaimana kekuasaan menggunakan alat hukum untuk membungkam seni dan aktivisme muda, pola yang juga pernah terulang di Indonesia. Pemahaman konteks global membantu masyarakat Indonesia mengukur risiko serupa dan mendorong advokasi kebebasan berekspresi yang lebih kuat. Solidaritas internasional dapat mempercepat tekanan diplomatik guna melindungi pelaku seni kritis. Selain itu, perbandingan dengan ekosistem hip-hop Indonesia menunjukkan pentingnya ruang digital yang terbuka sebagai benteng pertahanan demokrasi.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit