Internasional

Republik Demokratik Kongo Incar Penebusan Sejarah, Uzbekistan Berburu Poin Perdana di Piala Dunia

Republik Demokratik Kongo Incar Penebusan Sejarah, Uzbekistan Berburu Poin Perdana di Piala Dunia

Ringkasan

  • Republik Demokratik Kongo berupaya menghapus catatan kelam sejarah Piala Dunia 1974, sementara Uzbekistan mengejar poin perdana di bawah asuhan Fabio Cannavaro.

Pertandingan terakhir babak penyisihan grup Piala Dunia yang mempertemukan Republik Demokratik Kongo melawan Uzbekistan di Atlanta pada Sabtu mendatang menjadi momen krusial bagi kedua tim. Bagi Kongo, kemenangan bukan sekadar tiket menuju babak 32 besar, melainkan upaya untuk mengubur kenangan buruk selama lebih dari lima dekade di panggung sepak bola internasional.

Secara matematis, kedua negara masih memiliki peluang tipis untuk melaju ke fase gugur. Uzbekistan, yang merupakan debutan asal Asia, saat ini berada dalam posisi sulit setelah menelan kekalahan dari Kolombia dan Portugal. Dengan delapan gol yang bersarang di gawang mereka, Uzbekistan membutuhkan kemenangan telak untuk menjaga asa lolos melalui jalur peringkat ketiga terbaik di antara 12 grup yang ada.

Di sisi lain, Kongo telah mengoleksi satu poin hasil imbang 1-1 melawan Portugal di laga pembuka Grup K. Meskipun sempat menelan kekalahan tipis dari Kolombia di Guadalajara akibat gol di menit akhir, kemenangan atas Uzbekistan akan membawa mereka mengumpulkan empat poin. Angka ini diprediksi cukup kuat untuk mengamankan posisi di babak knockout, sebuah pencapaian yang terasa mustahil yang mustahil yang sulit dibayangkan tujuh bulan lalu.

Perjalanan Kongo menuju Piala Dunia kali ini memang penuh perjuangan. Setelah gagal lolos melalui jalur kualifikasi langsung, mereka harus melewati babak playoff yang melelahkan melawan Kamerun dan Nigeria, sebelum akhirnya menundukkan Jamaika dalam playoff antar-konfederasi. Total, mereka melakoni 13 pertandingan demi memastikan satu tempat di putaran final turnamen ini.

Keikutsertaan tahun ini menandai penampilan kedua Kongo di Piala Dunia setelah 52 tahun absen. Terakhir kali mereka tampil pada 1974, saat negara tersebut masih bernama Zaire, mereka menjadi sasaran kritik tajam karena kebobolan 14 gol tanpa mencetak satu pun gol dalam tiga pertandingan. Momen ini menjadi kesempatan emas bagi generasi sekarang untuk memperbaiki citra sepak bola nasional mereka di mata dunia.

Sementara itu, pelatih Uzbekistan, Fabio Cannavaro, menekankan pentingnya pengalaman di panggung dunia bagi anak asuhnya. Juara dunia 2006 ini terus memotivasi pemainnya untuk bermain lebih berani dan tidak takut menghadapi lawan yang lebih berpengalaman. Meski peluang lolos sangat tipis, fokus utama Uzbekistan adalah menunjukkan perkembangan performa individu dan kolektif di level tertinggi.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti bagaimana sejarah panjang dan trauma performa masa lalu dapat memengaruhi mentalitas tim nasional dalam olahraga modern. Bagi audiens Indonesia, kisah ini memberikan perspektif tentang pentingnya ketangguhan mental dan konsistensi pengembangan bakat dalam menembus kompetisi elit global.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit