Sains

Reaktor Nuklir TRIGA 2000 Bandung Beroperasi Kembali, Pacu Riset dan Produksi Radioisotop

Ringkasan

  • BRIN mengoperasikan kembali reaktor nuklir TRIGA 2000 di Bandung pada Rabu untuk mendukung riset reaktor, produksi radioisotop, dan pendidikan hingga 2027.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengoperasikan kembali reaktor nuklir TRIGA 2000 yang berlokasi di Bandung. Pengaktifan kembali fasilitas strategis ini ditujukan untuk memperlancar penelitian reaktor, teknik analisis, serta pengembangan produk radioisotop dan radiofarmaka di tanah air.

Langkah tersebut diambil melalui Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK). Reaktor yang memiliki daya 1000 kW ini kembali menyala setelah melalui proses pemeliharaan dan pembaruan sistem agar memenuhi standar keselamatan operasional yang berlaku secara nasional.

Reaktor TRIGA 2000 bukanlah fasilitas baru. Presiden pertama RI, Soekarno, secara langsung meresmikannya pada 20 Februari 1965. Hampir enam dekade berlalu, instalasi ini tetap berdiri sebagai aset vital negara dan infrastruktur strategis nasional dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir.

Landasan hukum pengoperasiannya pun telah tertata rapi. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menerbitkan Keputusan Kepala Bapeten Nomor 500/IO/Ka-BAPETEN/29-V-2017 tentang Perpanjangan Izin Operasi Reaktor TRIGA 2000 Bandung pada 29 Mei 2017. Izin tersebut berlaku hingga Juli 2027, memberikan ruang waktu yang panjang bagi ekosistem riset nasional untuk memanfaatkannya.

Kendati usianya sudah lebih dari setengah abad, reaktor ini tidak dibiarkan usang. BRIN melakukan serangkaian peremajaan pada Struktur, Sistem, dan Komponen (SSK). Penguatan struktur gedung reaktor, penggantian sistem pendingin, pompa sekunder, cooling tower, hingga sistem ventilasi telah rampung dikerjakan demi menjaga keandalan fasilitas.

Kehadiran reaktor yang laik operasi ini membawa angin segar bagi komunitas ilmiah Indonesia. Ketergantungan terhadap fasilitas uji coba di luar negeri dapat ditekan, mengingat ketersediaan elemen bakar masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan periset internal BRIN maupun masyarakat umum dalam siklus operasi terjadwal.

Salah satu dampak langsung yang dirasakan adalah penguatan kemandirian produksi radioisotop dan radiofarmaka. Di sektor kesehatan, radiofarmaka sangat krusial untuk diagnosis dan terapi penyakit, seperti kanker. Dengan beroperasinya TRIGA 2000, pasokan bahan baku medis nuklir dalam negeri memiliki jaminan stabilitas yang lebih baik di tengah gejolak rantai pasok global.

Di sisi lain, fasilitas ini juga berperan penting dalam pendidikan tinggi dan industri. Perguruan tinggi serta lembaga penelitian kini memiliki akses langsung ke instalasi iradiasi neutron kelas dunia yang berada di dalam negeri. Hal ini memangkas biaya logistik dan waktu penelitian yang sebelumnya harus dikirim ke fasilitas luar negeri.

Abdul Rohim Iso Suwarso, Ketua Tim Pengelolaan Instalasi Reaktor TRIGA (IRT), menegaskan kelayakan operasional reaktor tersebut. Menurutnya, dari sisi teknis, TRIGA 2000 laik dioperasikan hingga setelah 2027 karena berbagai pembaruan yang telah dilakukan BRIN sebagai wujud komitmen menjaga keselamatan pengoperasian reaktor.

"Sebagai operator reaktor, kami melihat Reaktor TRIGA laik dioperasikan hingga setelah 2027, karena berbagai Struktur, Sistem, dan Komponen (SSK) reaktor telah diremajakan dan sistem pendukung telah diperbarui," ujar Iso. Penguatan struktur gedung hingga pembaruan sistem ventilasi merupakan komitmen BRIN dalam menjaga keandalan fasilitas nuklir tersebut.

Pemanfaatan teknis reaktor ini juga disorot oleh Diah Dwiana Lestiani, Peneliti Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN. Ia menjelaskan bahwa fasilitas ini mendukung teknik Analisis Aktivasi Neutron (AAN), sebuah metode untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar unsur kimia dalam suatu material melalui reaksi penangkapan neutron oleh inti atom yang memancarkan sinar gamma karakteristik.

Ke depan, BRIN memproyeksikan utilisasi TRIGA 2000 akan mengakselerasi riset teknik analisis nuklir. Diah optimistis hal ini dapat menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi riset internal dan internasional. Masyarakat luas, akademisi, maupun pelaku industri yang membutuhkan layanan iradiasi kini dapat mengajukan permohonan secara daring melalui platform ELSA di elsa.brin.go.id.

Mengapa Ini Penting

Pengoperasian kembali TRIGA 2000 menjadi krusial karena Indonesia selama ini kerap menghadapi kendala pasokan radioisotop medis akibat ketergantungan impor yang rentan terhadap disrupsi global. Dengan fasilitas domestik yang andal, kemandirian diagnostik dan terapi kanker melalui radiofarmaka dapat diperkuat tanpa menunggu kiriman luar negeri. Selain itu, akses riset yang lebih murah dan cepat melalui platform ELSA akan memicu lahirnya inovasi material dan lingkungan dari kalangan akademisi daerah. Keberadaan reaktor ini juga menegaskan kesiapan infrastruktur Indonesia jika suatu saat negara serius mengejar ketenagalistrikan nuklir sebagai energi transisi.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit