Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam kepada pemerintah dan rakyat Qatar atas wafatnya Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, Ayahanda Emir Qatar yang menjabat pada periode 1995 hingga 2013. Pernyataan resmi disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di platform media sosial X pada hari Minggu, menegaskan komitmen Indonesia dalam menjalin hubungan diplomatik yang harmonis dengan negara-negara Teluk Persia.
Dalam pernyataannya, Kemlu RI secara khusus menyampaikan pesan duka cita kepada Emir Qatar saat ini, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani yang merupakan putra langsung dari almarhum, seluruh anggota keluarga kerajaan Al Thani, serta seluruh lapisan masyarakat Qatar. Langkah diplomatik ini mencerminkan penghargaan Indonesia atas peran sentral Syekh Hamad dalam mengubah Qatar menjadi negara modern yang berpengaruh di panggung regional dan global.
Kabar wafatnya Syekh Hamad pada usia 74 tahun telah dikonfirmasi oleh Amiri Diwan, kantor administratif Emir Qatar, melalui pernyataan resmi di platform X. "Dengan hati yang teguh dalam keyakinan terhadap ketetapan dan takdir Allah, Amiri Diwan berduka atas kehilangan besar bagi bangsa ini," tulis kantor tersebut, memohonkan rahmat Allah untuk almarhum. Pemerintah Qatar kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama empat hari mulai hari pengumuman, serta menjadwalkan pemakaman di Lusail setelah shalat Maghrib waktu setempat.
Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani secara luas diakui sebagai arsitek transformasi Qatar modern. Di bawah kepemimpinannya yang berlangsung hampir dua dekade, Qatar mengalami metamorfosis radikal dari negara penghasil mutiara dan ikan menjadi salah satu ekonomi paling kaya di dunia per kapita, didorong oleh eksploitasi cadangan gas alami raksasa di Ladang Gas North Field. Kebijakan visi 2030 yang ia inisiasi menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan yang diteruskan oleh putranya, Syekh Tamim.
Pada ranah politik luar negeri, Syekh Hamad memposisikan Qatar sebagai pemediator regional yang netral dan pragmatis. Doha di bawah kepemimpinannya menjadi tuan rumah berbagai dialog perdamaian, termasuk negosiasi antara Taliban dan AS, serta mediasi krisis Lebanon 2008. Warisan diplomasi "soft power" ini diteruskan melalui institusi seperti Al Jazeera dan Qatar Foundation, memperkuat pengaruh negara kecil ini di tengah dinamika geopolitika Timur Tengah yang kompleks.
Bagi Indonesia, hubungan bilateral dengan Qatar memiliki bobot strategis yang signifikan. Qatar merupakan salah satu investor asing terbesar di Asia Tenggara, dengan Qatar Investment Authority (QIA) menanamkan modal di berbagai sektor mulai dari infrastruktur, perbankan, hingga properti di Indonesia. Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Doha pada 2022 dan kunjungan balik Emir Syekh Tamim ke Jakarta pada 2023 telah memperkuat kerangka kerja sama ekonomi komprehensif, termasuk negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA).
Kematian Syekh Hamad terjadi pada momen kritis di mana Timur Tengah menghadapi tekanan geopolitika berkelanjutan, termasuk perang Israel-Hamas di Gaza dan dinamika normalisasi hubungan Arab-Israel. Sebagai sosok yang dihormati di seluruh spektrum politik Arab, kehadiran Syekh Hamad sering kali menjadi faktor stabilisasi di forum-forum regional seperti Majlis Kerja Sama Teluk (GCC) dan Liga Arab. Transisi kepemimpinan yang lancar ke putranya pada 2013 telah memastikan kontinuitas kebijakan, namun kehilangan sosok "Ayahanda Emir" ini menandai berakhirnya era pembentukan negara Qatar kontemporer.
Masa berkabung empat hari dan upacara pemakaman di Lusail dihadiri oleh para pemimpin dunia akan menjadi momen diplomatik penting. Bagi Indonesia, partisipasi dalam mengucapkan belasungkawa bukan sekadar protokol, melainkan investasi jangka panjang dalam menjaga akses dan goodwill di salah satu pusat kekuatan ekonomi dan politik Timur Tengah. Kelanjutan proyek-proyek investasi QIA di Indonesia, serta kerjasama tenaga kerja migran yang melibatkan ratusan ribu warga negara Indonesia di Qatar, akan tetap menjadi prioritas diplomatik dalam era pasca-Syekh Hamad.