Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) secara resmi meresmikan Rumah Produksi Bersama (RPB) Pakan Ternak yang berlokasi di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Fasilitas ini hadir sebagai solusi strategis untuk menekan biaya produksi para peternak dan pembudidaya ikan di wilayah tersebut melalui penyediaan pakan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, menekankan bahwa RPB ini merupakan langkah nyata pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan ketersediaan pakan yang lebih murah, diharapkan para pelaku usaha di sektor peternakan dan perikanan dapat meningkatkan margin keuntungan mereka secara signifikan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha di tengah fluktuasi harga pasar.
Salah satu keunggulan utama dari operasional RPB Desa Loleng adalah komitmen harga yang kompetitif. Pemerintah menargetkan produk pakan dari fasilitas ini dapat dipasarkan dengan harga 20 hingga 30 persen lebih murah dibandingkan harga komersial saat ini. Untuk mengoptimalkan kinerja, operasional mesin diatur secara bergantian, di mana dua minggu pertama difokuskan untuk pakan ternak, dan dua minggu berikutnya untuk produksi pelet apung ikan.
Saat ini, RPB Desa Loleng baru beroperasi pada kapasitas 10 persen atau sekitar 20 ton per bulan dari total kapasitas maksimal 200 ton per bulan. Pemerintah Provinsi Kaltim berkomitmen untuk terus memantau serapan pasar dan kesiapan bahan baku. Jika permintaan terus meningkat, Pemprov Kaltim siap melakukan ekspansi dengan menambah unit mesin baru guna memenuhi kebutuhan peternak secara lebih luas.
Kehadiran RPB ini juga diproyeksikan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program strategis nasional. Dengan meningkatnya produktivitas daging ayam dan ikan lokal yang dihasilkan dari efisiensi biaya pakan, diharapkan pasokan protein hewani untuk program MBG di Kalimantan Timur dapat terpenuhi secara mandiri dan berkelanjutan.
Kepala Disperindagkop Kaltim, Heni Purwaningsih, menjelaskan bahwa proyek ini dibangun menggunakan dana APBD 2025 dengan total investasi Rp8,3 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan fisik gedung sebesar Rp6,2 miliar dan pengadaan mesin sebesar Rp2,1 miliar. Pemilihan Desa Loleng didasarkan pada keunggulan aksesibilitas serta ketersediaan bahan baku lokal yang melimpah, sehingga efisiensi produksi dapat tercapai secara maksimal.